Booth Indonesia tarik Minat Pengunjung di ALFS Charity Bazaar 2017

Bazaar amal Internasional yang diadakan oleh Asian Ladies Friendship Society (ALFS) kembali digelar di ANA Intercontinental Hotel, Tokyo (Rabu, 19/04/2017). Bazaar tahunan yang sudah memasuki tahun penyelenggaraan ke-41 ini diikuti sekitar 20 perwakilan asing di Jepang (Indonesia, Singapura, Malaysia, Laos, Mikronesia, Samoa, Vietnam, dsb), ALFS, perwakilan dari Prefektur Ehime Jepang, serta pengrajin atau UKM Jepang lainnya.

Her Imperial Highness Princess Hitachi Hanako, putri Kekaisaran Jepang yang didampingi oleh para petinggi ALFS, Ms. Haruko Komura membuka acara bazaar dengan mengunjungi setiap booth dari kedutaan asing di Jepang. Khusus di booth Indonesia, HIH Hitachi tertarik membeli kain batik asal Bali serta kerajinan perak Bali untuk dibawa pulang. HIH Hitachi pun turut terlibat pembicaraan mengenai kain batik tersebut di booth Indonesia.

Selain itu, sebagai bentuk apresiasi terhadap para peserta bazar amal, HIH Hitachi juga mengadakan jamuan makan siang bersama para spouse Kepala Perwakilan asing, termasuk istri KUAI RI Tokyo, Harwita Sari Drajat. Pada acara hiburan, ditampilkan pula tarian dan nyanyian dari negara Viet Nam, yang merupakan perwakilan dari chairperson bazaar.

Partisipasi Indonesia dilakukan dengan membuka booth promosi kerajinan Indonesia yang kali ini menampilkan kain Bali serta perak dan juga membuka booth kuliner indonesia yang menyajikan jajanan pasar dan produk makanan Indonesia.

Acara charity bazaar ini digelar sebagai acara tahunan ALFS, yang hasil keuntungannya akan disumbangkan ke pihak yang membutuhkan. Tahun ini bertindak sebagai chairperson adalah spouse dari Duta Besar Viet Nam untuk Jepang.

KBRI Tokyo Jajaki Kerjasama Bidang Ekonomi dan Budaya dengan Okinawa

KBRI Tokyo telah melakukan pertemuan dengan Pemerintah Daerah Okinawa guna membahas peningkatan kerjasama tingkat grass root di bidang pertanian, pariwisata, budaya, pengiriman trainee dan perawat caregiver dan lainnya pada hari Sabtu (15/04). Peningkatan kerjasama berbagai bidang tersebut dapat diarahkan pada pembentukan sister city atau sister province antara Okinawa dengan kota atau provinsi di Indonesia. Secara khusus, Pemda Okinawa ingin belajar dan melakukan pertukaran pengalaman dengan Bali guna meningkatkan jumlah wisatawan asing ke Okinawa.

KBRI Tokyo yang diwakili oleh Minister Counsellor Politiknya, M. Abas Ridwan, juga menyampaikan mengenai penyelenggaraan berbagai kegiatan dalam rangka 60 tahun hubungan diplomatik RI-Jepang pada tahun 2018 dan berharap di Okinawa juga dapat diselenggarakan acara yang dikaitkan dengan 60 tahun hubungan Indonesia – Jepang.

Program Pelatihan dan Magang Petani Muda Indonesia di Jepang

KBRI Tokyo telah melakukan kunjungan ke lokasi magang petani Indonesia Bell Farm dan Kinjo Farm, Itoman, Okinawa pada hari Sabtu (15/04). Program pelatihan dan magang bagi petani muda Indonesia di Jepang diselenggarakan oleh berbagai organisasi non-pemerintah Jepang seperti JAEC/Japan Agriculture Exchange Council, NAEC/Nigata Agriculture Exchange Council, IAEA/International Agriculture Exchange Association, ICE/Ibaraki Chuo Engei termasuk OISCA/Organization Industrial Spiritual Cultural Advance.

Peserta program magang yang diselenggarakan oleh OISCA sektor pertanian di Okinawa pada saat ini berjumlah 42 peserta untuk program selama 3 tahun, yang diselenggarakan secara bergantian dan berkelanjutan.

Kegiatan pelatihan petani Indonesia di Jepang sangat positif menguntungkan kedua belah pihak. Di sisi Jepang, untuk membantu petani Jepang yang sudah tua antara 55-65 th dan dari sisi Indonesia pemagang selain mendapatkan pengalaman teknik pertanian juga yang utama adalah budaya disiplin dan kerja keras dari petani Jepang. Setelah 3 tahun mereka akan memperoleh modal dari hasil tabungan untuk dijadikan modal usaha pertanian sekembalinya ke daerah asal mereka dengan berbekal pengalaman yang diperoleh selama di Jepang.

Diharapkan mereka dapat berhasil dan meningkatkan taraf hidup keluarga dan sekaligus menjadi perintis di desanya untuk menarik kaum muda lainnya di sektor pertanian yang akhir-akhir ini kurang diminati kaum muda Indonesia.

Sosialisasi dan Pelayanan Kekonsuleran bagi WNI di Okinawa

KBRI Tokyo dan BNI Tokyo meyelenggarakan acara Sosialisasi dan Pelayanan untuk masyarakat Indonesia di Naha, Ibukota Okinawa di ujung selatan Jepang pada hari Sabtu (15/04). Acara sosialisasi dibuka oleh Kuasa Usaha ad Interim KBRI Tokyo, Dr. Ben Perkasa Drajat, dilanjutkan dengan pemaparan tentang keimigrasian, pelayanan kekonsuleran serta remittance oleh KBRI Tokyo dan BNI Tokyo. Kegiatan dilanjutkan dengan “Warung Konsuler” serta tanya-jawab tentang berbagai masalah yang dihadapi diaspora Indonesia di Pulau Okinawa.

Menteri Susi Pudjiastuti Ajak Masyarakat Indonesia di Jepang Wujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia

Tak kurang dari 250 masyarakat Indonesia memenuhi Balai Indonesia di Sekolah Republik Indonesia Tokyo guna bertemu dan berdialog dengan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti pada hari Rabu (12/04).

Dalam suasana yang penuh dengan keakraban dan hangat, Menteri Susi menyampaikan pesan kepada masyarakat Indonesia di Jepang agar mempelajari dan menyerap nilai-nilai positif dari Jepang, seperti semangat, integritas, semangat kerja keras dan rasa kepemilikan yang tinggi, dan membawa itu semua ke tanah air dan menyebarluaskan kepada seluruh masyarakat Indonesia.

Menteri Susi yang tetap segar meskipun di tengah jadwal kegiatan yang padat selama di Jepang juga menyampaikan bahwa meskipun Indonesia saat ini sangat kaya dengan perikanan, namun kita harus tetap menjaga agar sumber daya tersebut tetap berkesinambungan demi generasi mendatang.

“Kita harus berani melakukan perubahan demi mewujudkan visi negara Indonesia selaku poros maritim”, disampaikan oleh Menteri Susi kepada masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia harus berani keluar dari zona nyaman dan menjunjung tinggi integritas dan berani melakukan perubahan lainnya.

Pemberdayaan masyarakat sendiri juga penting untuk dilakukan, karena pada dasarnya masyarakat yang sejahtera adalah masyarakat yang bisa mengadvokasi kepentingannya sendiri.

Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan antara lain melalui pengembangan teknologi kemaritiman dan pengembangan jurusan kemaritiman di berbagai universitas di Indonesia, pemberdayaan nelayan dan peningkatan mutu pabrik pengolahan ikan.

Menteri Susi Pudjiastuti saat ini tengah melakukan kunjungan kerja di Jepang pada 10-15 April 2017. Dalam kunjungannya tersebut, Menteri Susi dijadwalkan untuk berkunjung ke Tokyo, Shizuoka, Nagoya dan Chiba dan melakukan pertemuan dengan Menteri Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang, JICA, sejumlah institusi kemaritiman Jepang serta berbagai perusahaan perikanan terkemuka Jepang guna belajar dari Jepang.

Selain itu, Pemerintah Indonesia juga telah mengundang Jepang untuk menanamkan investasi di 6 pelabuhan dari 24 pelabuhan yang direncanakan akan dibangun di Indonesia.