Sebagian kenshusei (pemagang) Indonesia mengelilingi meja makan sambil bercanda ria dengan pihak manajemen perusahaan, yang lainnya asyik barbeque seafood untuk dihidangkan kepada yang hadir. Musik mengalun dan suasana taman yang asri semakin mengakrabkan 50 pemagang Indonesia dengan pihak perusahaan. Acara get together diadakan oleh beberapa perusahaan Jepang Sabtu 25 Agustus yang lalu di Kasama, prefecture Ibaraki, lebih kurang 2 jam dari Tokyo.

Acara seperti ini diadakan tiap tahun sebagai apresiasi perusahaan Jepang kepada para pemagang yang tekun berlatih. Saat ini tidak kurang dari 13.000 WNI yang berlatih dalam skema pemagangan di Jepang di bidang-bidang industri manufaktur, pertanian dan perikanan. Setelah berlatih selama 3 tahun, para pemagang diharapkan kembali ke Indonesia untuk menerapkan keterampilannya di tanah air. Tidak sedikit para mantan pemagang di Jepang yang telah kembali ke Indonesia diterima bekerja di berbagai perusahaan dan ada yang sukses berbisnis. Sambil makan dan minum, para pemagang bersama manajemen melakukan toast Kanpai pertanda perusahaan dan pemagang puas dan siap melanjutkan pelatihan.     

Para tamu dari berbagai kalangan seperti anggota parlemen Jepang, diplomatik, instansi pemerintah, CEO perusahaan ternama di Jepang, Friends of Indonesia, Diaspora, serta para undangan lainnya nampak asyik menikmati sajian makanan tradisional Indonesia sambil menyaksikan permainan duet sasando dan biola yang menawan. Pemandangan ini terlihat pada resepsi diplomatik dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke 71 yang diadakan Jumat (26/08/2016) di Hotel New Otani, Tokyo.

IMG_1374Menggenapi berkelasnya resepsi dimaksud, hadir Menteri Pertahanan Jepang, Inada Tomomi, yang baru saja dilantik pada kabinet Perdana Menteri Abe, sebagai tamu kehormatan resepsi diplomatik ini. Sementara itu, untuk bersulang, didaulatlah mantan Perdana Menteri Jepang, Mr. Yasuo Fukuda yang menjabat sebagai Ketua Asosiasi Persahabatan Indonesia-Jepang. Mereka berdua dalam sambutannya menekankan akan eratnya hubungan Indonesia dan Jepang yang direfleksikan ke berbagai bentuk kerjasama di berbagai bidang baik di tingkat pemerintah maupun non-pemerintah.

A50P1390

Duta Besar RI untuk Jepang, Dr. Yusron Ihza Mahendra meyakini bahwa bahwa kekuatan hubungan antara kedua bangsa tidak terlepas dari kontribusi berbagai pihak baik Jepang maupun Indonesia, yang dengan tulus mendedikasikan jerih payahnya bagi kemajuan kedua negara.

“Oleh sebab itu resepsi ini didedikasikan bagi semua pihak yang telah berkontribusi bagi penguatan kerjasama kedua negara, yang telah memungkinkan kerjasama hakiki antara kedua negara berlandaskan ‘heart-to-heart relationship’,”tegas Dubes Yusron yang malam itu tampil elegan mengenakan pakaian adat melayu.

Resepsi dimeriahkan dengan pertunjukan seni budaya dari berbagai daerah dengan dukungan dari Kementerian Pariwisata RI dan beberapa sanggar tari yang berlokasi di Tokyo. Beberapa tarian nusantara antara lain Asa Putri (DKI Jakarta), Lenso (Maluku), Legong Keraton (Bali), Treger (Banyumas), Kancet Bangentawai (Kalimantan Timur), Bajidor Kahot (Jawa Barat), serta Jepen Mahakam (Kalimantan) memukau para hadirin.

Tidak kalah dengan tarian, lantunan lagu-lagu daerah melalui permainan musik tradisional Sasando, biola dan sapek yang apik menambah kemeriahan malam itu. Soto ayam Lamongan, nasi goreng, sate ayam, sampai kolak pisang ubi juga mengundang pujian dari para tamu.

A50P1798A50P1720

Dokumentasi Video:

Sosialisasi kebijakan pengampunan pajak oleh Atase Keuangan KBRI Tokyo, Ferry Rachman Isfianto, di KJRI Osaka, Sabtu (20/8/2016) yang lalu ramai dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat yang bermukim di Osaka dan sekitarnya .

Dalam sosialisasi pengampunan pajak tersebut, Atase Keuangan menyampaikan bahwa Program tax amnesty atau pengampunan pajak menjadi salah satu program urgen pemerintah.

“Seperti yang kita ketahui bahwa pemerintah akan melakukan reformasi kebijakan dalam perpajakan secara simultan hingga tahun 2017. Kehadiran peserta pada acara ini menunjukan antusiasme dan tanggung jawab warga Indonesia dalam membangun negaranya”, imbuh Ferry.

Lalu, apakah tax amnesty itu? Arti secara sederhana dari tax amnesty adalah pengampunan pajak, yaitu adanya penghapusan pajak bagi Wajib Pajak (WP) yang menyimpan dananya di luar negeri dan tidak memenuhi kewajibannya dalam membayar pajak dengan imbalan menyetor pajak dengan tarif lebih rendah. Dengan dilakukannya tax amnesty ini, diharapkan para pengusaha yang menyimpan dananya di luar negeri akan memindahkan dananya di Indonesia dan menjadi WP baru yang patuh sehingga dapat meningkatkan pendapatan pajak negara.

Pada umumnya, pemberian tax amnesty bertujuan untuk meningkatkan penerimaan pajak dalam jangka pendek, meningkatkan kepatuhan pajak di masa yang akan datang, mendorong repatriasi modal atau aset dan transisi ke sistem perpajakan yang baru.

Kejujuran dalam pelaporan sukarela atas data harta kekayaan setelah program tax amnesty merupakan salah satu tujuan pemberian tax amnesty. Dalam konteks pelaporan data harta kekayaan tersebut, pemberian tax amnesty juga bertujuan untuk mengembalikan modal yang parkir di luar negeri tanpa perlu membayar pajak atas modal yang di parkir di luar negeri tersebut. Pemberian tax amnesty atas pengembalian modal yang di parkir di luar negeri ke bank di dalam negeri dipandang perlu karena akan memudahkan otoritas pajak dalam meminta informasi tentang data kekayaan wajib pajak kepada bank di dalam negeri.

Diharapkan melalui sosialisasi tersebut, masyarakat dapat tersadarkan mengenai arti penting pajak bagi keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Dengan pemahaman yang baik, diharapkan tingkat kepatuhan, baik formal dan material Wajib Pajak akan meningkat.

Tak ingin ketinggalan dalam memeriahkan suasana kemerdekaan Indonesia tahun ini, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Jepang didukung oleh Rumah Budaya Indonesia (RBI) KBRI Tokyo menggelar sebuah event akbar bertajuk “Indonesia Culinary Festival” di 17 lokasi dengan 8 jam durasi waktu pelaksanaan dan menyajikan 45 menu tradisional khas Indonesia (20/08/2016) bertempat di Sekolah Republik Indonesia Tokyo. Angka tersebut sekaligus menandakan hari proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Pagelaran akbar ini secara resmi dibuka oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang, Dr. Yusron Ihza Mahendra dengan pemukulan gong sebanyak 17 kali yang secara langsung disaksikan seluruh peserta di 17 lokasi berbeda.

“ Kami sangat berbangga hati menyaksikan kreatifitas pelajar yang tergabung dalam PPI dengan dukungan Rumah Budaya menyelenggarakan kegiatan yang bertujuan untuk memupuk rasa persatuan dan nasionalisme warga Indonesia di Jepang”, ujar Dubes Yusron.

Sementara itu, Atase Pendidikan, Dr. Alinda Zein menjelaskan bahwa lokasi kegiatan  tersebar di 17 titik di seluruh Jepang mulai dari Sapporo di Hokkaido pulau di bagian utara Jepang, hingga Kyushu, pulau di bagian selatan. Walaupun bertajuk kuliner, berbagai kegiatan lain berupa lomba khas 17-an dan pagelaran seni digelar secara bersamaan di beberapa tempat untuk menambah kemeriahan acara ini.

Acara kuliner sendiri berupa demo memasak atau cooking class yang dilakukan pelajar dan masyarakat Indonesia, yang juga secara aktif mengajak masyarakat Jepang untuk mencoba membuat hidangan tradisional Indonesia. Berbagai hidangan khas mulai dari nasi goreng dan nasi kuning lengkap dengan lauknya, pempek palembang, tekwan, soto ayam, batagor, bakmi Jawa, sate, ayam bakar yang merupakan menu utama ditambah klepon, bubur sumsum, es teler, risoles, es cendol, serta dadar gulung sebagai hidangan penutup menjadi penyejuk di suasana musim panas di negeri sakura.

Ketua PPI Kanto, Pandu Utama Manggala yang saat ini sedang menempuh studi S3 mengatakan acara itu memberi kesempatan kepada masyarakat Jepang untuk mengenal budaya dan ragam makanan Indonesia yang kaya bumbu rempah.

“acara ini juga selain bertujuan untuk mempromosikan budaya dan keramahan masyarakat Indonesia kepada masyarakat Jepang dan ternyata masyarakat Jepang sangat menyukai  makanan Indonesia walaupun proses pembuatannya cukup lama” ungkap Pandu.

Harapan besar lainnya dari kegiatan akbar kali ini adalah terjalinnya silaturahmi dan persaudaraan antara masyarakat Indonesia yang ada di Jepang, yang menjadi cermin persatuan anak bangsa di perantauan dalam membangun Indonesia di masa mendatang.

Mantan Menteri Luar Negeri Dr. Hassan Wirajuda, Prof. Jimly Ashidique, Dr. Azyumardi Azra dan Yenny Wahid tampil menjadi pembicara dalam The 1st Opinion Leaders Dialogue on Democracy di International House of Japan Tokyo, Jumat (19/08/2016).

Kegiatan tersebut merupakan forum perdana diplomasi “track 2” yang diselenggarakan oleh Genron NPO dengan menggandeng mitra dari dua negara demokrasi terbesar di Asia yaitu Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia dan Observer Research Foundation (ORF) India. Hadir juga pembicara dari India dan Jepang seperti Mihir Swarup Sharma,Prof. Dr. Yoshiko Kojo, Prof. Kiichi Fujiwara, dan Prof. Dr. Toru Yoshida.

Dalam kesempatan tersebut, Dubes RI Dr. Yusron Ihza Mahendra menyampaikan arti penting dari pertemuan tiga negara demokrasi terkemuka di Asia.

“Demokrasi bukanlah suatu sistem yang sempurna tetapi perlu terus dilakukan perbaikan sesuai perkembangan zaman. Melalui upaya pembahasan bersama yang berkesinambungan diharapkan demokrasi ke depan dapat terus disempurnakan” ujar Dubes Yusron.

Di tengah dinamika dunia yang semakin otoriter, ektrim, dan populis, diskusi ditujukan untuk membahas isu-isu penting dalam demokrasi dari sudut pandang pengalaman negara-negara besar di kawasan, seperti isu bagaimana untuk memperkokoh sistem demokrasi serta lebih berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas kawasan.

Forum tersebut juga  digunakan oleh penyelenggara untuk meluncurkan hasil “joint opinion survey” tentang demokrasi di Indonesia, Jepang dan India.

0PengikutSuka
36Pelanggan+1
12,585PengikutIkuti
160PelangganLangganan