Dubes RI untuk Jepang Yusron Ihza Mahendra mendorong investasi Jepang di bidang agroindustri, infrastruktur, energi listrik dan manufaktur.

Dubes Indonesia untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra, hari ini (4/3/2014) di Tokyo membuka seminar investasi “Indonesia Business Forum 2014”. Seminar yang mengambil tema “Preparing to the Next Level: Indonesia – Japan Business Relations” tersebut diselenggarakan secara bersama oleh KBRI Tokyo, BKPM RI, dan ASEAN-Japan Center (AJC) Tokyo.

Pada pidato pembukaannya, Dubes Yusron menyampaikan bahwa pemilihan tema tersebut sangat tepat karena mengandung pesan utama bahwa Indonesia dan Jepang tidak boleh berpuas diri. “Walaupun hubungan kerjasama antara kedua negara telah terjalin sangat erat, kita harus terus meningkatkannya ke taraf yang lebih tinggi lagi, sehingga kerjasama kedua negara terus membawa manfaat nyata bagi rakyat kedua negara”, demikian ditekankan Dubes Yusron pada kesempatan tersebut.

Dubes Yusron menyambut baik peningkatan investasi Jepang di Indonesia, yang pada tahun 2013 lalu menempati posisi pertama dengan nilai realisasi US$ 4,7 milyar, dan mendorong dunia usaha Jepang untuk terus memanfaatkan berbagai peluang investasi yang tersedia di Indonesia.

“Secara khusus saya ingin mengundang dunia usaha Jepang untuk berinvestasi di beberapa sektor utama, yaitu agroindustri, pembangunan infrastruktur, energi listrik, dan industri manufaktur”, demikian digarisbawahi Dubes Yusron. Hal ini dikarenakan arti penting sektor-sektor tersebut bagi pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Seminar investasi tersebut juga menghadirkan Kepala BKPM, Bapak Mahendra Siregar, sebagai keynote speaker.

Dalam paparannya, Kepala BKPM menguraikan prospek ekonomi dan peluang investasi Indonesia di masa mendatang. Kuatnya fundamental ekonomi Indonesia, yang dibarengi peningkatan jumlah penduduk usia produktif serta kelas menengah, dan terus berlangsungnya konsolidasi demokrasi memberikan basis yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan. Tentunya hal ini sangat kondusif bagi investasi, mengingat investasi merupakan upaya yang bersifat jangka panjang. Beliau juga menyoroti bahwa mayoritas investasi asing, termasuk investasi Jepang, masih terpusat di Pulau Jawa. Karenanya, beliau mendorong investor Jepang untuk memanfaatkan berbagai peluang yang tersedia di berbagai daerah lainnya di Indonesia.

Seminar mendapatkan respons yang antusias dari dunia usaha Jepang. Dari target semula 300 peserta, tercatat hampir 500 peserta menghadiri acara ini, yang menunjukkan sangat tingginya minat dunia usaha Jepang untuk berinvestasi di Indonesia. Seminar diisi pula dengan presentasi dari operator fasilitas industri di Indonesia (kawasan industri Jababeka dan Kendal, serta pelabuhan Gresik) dan paparan dari lembaga penelitian Jepang IDE-JETRO (Institute for Developing Economies – Japan External Trade Organization).