Dubes Indonesia untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra, dan Nyonya Dewi Lusiana tiba di Istana Kaisar Jepang untuk memenuhi undangan Kaisar Akihito dan Ratu Michiko, Kamis sore (03/04). Undangan ini dimaksudkan sebagai acara ramah-tamah dengan Kaisar dan Ratu selepas penyerahan Surat Kepercayaan (Letter of Credential) kepada Kaisar yang dilakukan Dubes Yusron sekitar satu bulan sebelumnya.

Berbeda dengan saat penyerahanan Surat Kepercayaan yang dilakukan dalam bentuk upacara resmi kenegaraan, kali ini acara berjalan dalam suasananya lebih rileks dan diselingi suguhan minuman kopi dan teh. Faktor bahasa, boleh jadi merupakan faktor penting dalam menciptakan suasana rileks tersebut. Sebab, jika saat penyerahan Surat Kepercayaan Dubes Yusron memilih menggunakan Bahasa Indonesia (sebagai Bahasa Nasional), kali ini pembicaraan dilakukan dalam Bahasa Jepang sehingga dapat berjalan spontan tanpa interupsi oleh penerjemah dan juga tanpa jarak budaya yang terlalu lebar akibat faktor bahasa tadi.

Dalam pertemuan di atas, Kaisar sempat menanyakan kabar Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan juga tentang Pemilu. Dubes Yusron memberitahukan Kepada Kaisar bahwa Presiden berada dalam keadaan sehat serta menyampaikan salam dari Pemerintah Indonesia.

Terkait Pemilu, Dubes Yusron menyampaikan bahwa oleh karena Presiden Yudhoyono telah menjabat sebagai Presiden sebanyak dua kali, maka sesuai Undang-Undang Dasar, di bulan Oktober nanti  Indonesia akan dipimpin oleh Presdien baru. Namun, lanjut Dubes, dia percaya bahwa Presiden yang baru akan tetap meneruskan hubungan baik Indonesia-Jepang yang telah berjalan selama ini.

“Saya percaya bahwa langkah-langkah positif yang telah ditempuh Presiden Yudhoyono dalam hubungan Indonesia-Jepang akan diikuti dan menjadi suri tauladan bagi para pemimpin Indonesia berikutnya,” ujar Dubes Yusron.

Di luar topik resmi seperti di atas, dialog Dubes Yusron dengan Kaisar  lebih banyak menyangkut kehidupan sehari-hari. Kaisar, misalnya, bertanya tentang masa-masa saat Dubes Yusron mengambil S2 dan S3 di Universitas Tsukuba, yang berjarak sekitar satu jam perjalanan darat dari Tokyo. Kaisar juga sempat bercerita tentang kunjungannya ke Indonesia pada masa Pemerintahan Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto dan juga tentang kenangan manis saat menginap di Istana Bogor dan Istana Tampak Siring di Bali.

Sementara itu, Ratu Michiko banyak bercerita tentang kebudayaan Indonesia, terutama tentang Angklung dan lagu Bengawan Solo. “Saya amat menyukai Angklung dan amat gembira ketika  di masa lalu kami mendapat satu set Angklung sebagai cinderamata dari Pemerintah Indonesia,” ujar Ratu kepada  Nyonya Dubes Yusron.

Menurut Ratu, Angklung itu masih ada di Istana Kaisar dan mereka memainkannya pada saat-saat tertentu.

Baik Ratu atau pun Kaisar sempat berbicara tentang Bunga Sakura yang sedang mekar. Pada sisi tertentu di halaman Istana,  keindahan Bunga Sakura dapat dinikmati oleh masyarakat umum, ujar Kaisar dan Ratu.