Keterbukaan dan saling percaya adalah kunci bagi stabilitas dan keamanan kawasan Asia Pasifik. Demikian pesan yang disampaikan Dubes RI untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra dalam Memorial Address Simposium Internasional bertajuk “How to Have a Breakthrough in Japan–China Relations – A Path Toward a Creation of a Security Mechanism in East Asia”, di Universitas Tokyo, Sabtu (12/7-2014).

Simposium yang ditujukan untuk membahas situasi terkini Kawasan Asia Pasifik serta masa depan kawasan ini, terutama terkait suhu hubungan Jepang-RRT yang memanas belakangan ini, diselenggarakan oleh International Academic Society for Asian Community, sebuah lembaga milik Jepang. Sejumlah diplomat senior Jepang, para ahli Hubungan Internasional dari Jepang dan luar negeri, serta politisi Jepang hadir dalam acara itu. Termasuk, mantan PM Jepang, Yukio Hatoyama, yang juga tampil sebagai pembicara.

Dalam Memorial Addrees di atas, Dubes Yusron menggarisbawahi pentingnya kerja sama ASEAN – Jepang yang telah terjalin selama lebih dari 40 tahun, termasuk juga dinamika yang ada di dalam ASEAN sendiri.

“Sama seperti kawasan lain, kami (ASEAN) bukan tidak memiliki masalah di antara sesama kami. Sengketa perbatasan, terutama overlapping claim di wilayah laut, terjadi di internal kami. Tapi ada hal penting yang perlu dicatat, yaitu kami selalu menyelesaikannya dengan cara damai dan bukan dengan jalan perang. Dan, ini dikenal sebagai the ASEAN Way, ujar Dubes Yusron.

Menyinggung soal Jepang-RRT, Dubes Yusron mengatakan bahwa Jepang adalah sebuah realitas; dan RRT pun juga demikian. Kedua negeri ini tidak dapat saling menafikan satu sama lainnya. Bahkan, sambungnya, walau kita menutup mata sekalipun, RRT tetap saja ada di seberang sana, dan Jepang ada di seberang sini.

“Karena itu, akan amat menggembirakan jika Jepang-RRT dapat saling menghormati serta saling percaya atas dasar saling terbuka. Dan, kemudian mengadopsi the ASEAN Way dalam menyelesaikan sengketa wilayah yang sedang dihadapi. Penyelesaian masalah secara damai, bukan merupakan opsi bagi Jepang-RRT, melainkan keniscayaan,” tandas Dubes Yusron.

Menanggapi reinterpretasi konsiitusi Jepang yang telah disepakati parlemen tanggal 1 Juli yang lalu, termasuk peningkatan kekuatan pertahanan Jepang serta relaksasi ekspor alat-alat pertahanan, Dubes Yusron menanggapi hal itu secara positif. Menurutnya, selain akan memberi ruang gerak untuk berperan dalam masalah stabilitas kawasan, hal ini akan sekaligus membuka peluang kersama bidang pertahanan anatara Jepang dengan negara lain, termasuk industri pertahanan.

Sejatinya perdamaian memang harus ditopang dengan kekuatan senjata. “Heiwa wa, tada eda to namida dake de wa, mamorarenai (perdamaian tidak akan dapat ditegakkan hanya  dengan ranting dan air mata). Karena itu, tidak ada yang perlu dirisaukan atas gerakan Jepang saat ini. Gerakan ini bahkan akan memberikan kontribusi positif bagi terciptanya new dynamic equilibrium di kawasan Asia Pasifik, tegas Dubes Yusron.