Keindahan penampilan suatu karya seni bukan hanya terletak pada seberapa hebat kemampuan para pemainnya tapi juga pada penghayatan dan presentasi kepada penikmatnya. Hal ini tercermin dalam Konser Gamelan yang ditampilkan oleh kelompok pencinta musik gamelan dari Tokyo College of Music, di Ikebukuro, Tokyo pada 23 Februari 2014. Penampilan sepenuh hati dan kemampuan yang ‘mumpuni’ dari para penari dan pemain musik gamelan yang keseluruhannya adalah orang Jepang ini mengundang decak kagum dari para penonton. Bahkan Duta Besar RI dalam sambutannya menyampaikan pujian atas indahnya penampilan yang disuguhkan, yang menurutnya membawa suasana seperti berada di Indonesia.

Dalam konser yang berlangsung sekitar 2 jam ditampilkan beberapa sajian di antaranya adalah lcr. Singa Nebah, pl. br., lcr. Gugur Gunung, pl.br., Menak Koncar, dan, ldr. Kembang Kates. Antusiasme dari para penonton dapat terlihat jelas dengan terisi penuhnya tempat duduk yang disediakan oleh panitia dan juga sambutan yang meriah di setiap nomor pertunjukkan.

Kelompok pencinta musik gamelan yang mementaskan kesenian gamelan dan tarian Jawa di Tokyo College of Music ini awalnya diprakarsai Ibu Sato Mariko, seorang alumni Darmasiswa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1975, yang pada waktu itu selama 6 bulan belajar di Akademi Seni dan Karawitan Indonesia (ASKI) Solo yang sekarang telah berubah nama menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Solo . Hingga saat ini pagelaran musik gamelan ini rutin dilakukan dan telah dimasukkan ke dalam kurikulum pembelajaran dari Tokyo College of Music.  Sebagai informasi, Tokyo College of Music yang didirikan sejak tahun 1907 telah membentuk Bidang Kajian Musik Etnik (Ethnomusic Research Section), di mana gamelan menjadi salah satu mata kuliah dan telah dipentaskan selama kurang lebih 30 tahun.

Kesenian Gamelan sendiri cukup unik karena melibatkan alat-alat musik yang menunjukkan percampuran kebudayaan asli Indonesia dengan budaya luar. Sebagai contoh, rebab dan siter, dalam kebudayaan Jepang masing-masing dikenal dengan nama kokyo dan koto.