“Kemajuan Indonesia yang berkelanjutan di berbagai bidang, baik ekonomi maupun politik, akan membawa manfaat besar bagi Jepang, karena akan memperluas potensi cakupan kerjasama dan kemitraan antara kedua negara,” demikian disampaikan Dubes RI Tokyo, Yusron Ihza Mahendra pada pembukaan Indonesia – Japan Policy Dialogueyang diselenggarakan oleh JICA (Japan International Cooperation Agency) di Tokyo, tanggal 25 Agustus 2014.

Dubes Yusron mencontohkan bahwa di masa lalu Indonesia semata merupakan penerima bantuan pembangunan ODA dari Jepang (Official Development Assistance), saat ini kemajuan Indonesia telah memungkinkan untuk meluncurkan berbagai skema kerja sama, tidak terbatas hanya di antara kedua negara, namun juga kerjasama trilateral di mana kedua negara secara bersama membantu pembangunan di negara lainnya.

“Kemitraan Indonesia dan Jepang telah berkembang sedemikian luas sebagai suatu kemitraan sejati yang menghubungkan kedua bangsa secara erat dan bersahabat di berbagai aspek kehidupan dan membawa manfaat besar bagi rakyat kedua negara. Oleh sebab itu, tidak perlu diragukan lagi bahwa di bawah pemerintahan yang baru hasil Pilpres 2014 yang lalu, hubungan persahabatan kedua negara akan tetap terus berkembang,”. Demikian menurut rilis yang dikirm oleh KBRI Tokyo.

Turut memberikan sambutan pada sesi pembukaan adalah Menlu Jepang, Fumio Kishida, serta Presiden JICA, Akihiro Tanaka dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Bapak Ginandjar Kartasasmita, juga turut membuka pertemuan ini.

Menlu Kishida menekankan bahwa Jepang memandang penting hubungannya dengan Indonesia dan yakin hubungan kedua negara akan semakin baik di bawah pemerintahan baru.  Lebih lanjut, disampaikan bahwa Jepang mengakui peran penting Indonesia dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan.

Presiden JICA, selaku penyelenggara acara, menyambut baik para ahli dan tokoh penting yang hadir di JICA Indonesia – Japan Policy Dialogue, dan mengharapkan bahwa forum ini dapat memetakan jalan hubungan kedua pihak untuk masa yang akan datang. Lebih lanjut, ia menggarisbawahi peran Jepang di Indonesia, khususnya dalam membantu pembangunan infratruktur melalui Skema Metropolitan Priority Area (MPA).

Sementara itu, Prof. Ginandjar menyampaikan bahwa saat ini Indonesia telah mencapai kemajuan di berbagai bidang terutama di bidang ekonomi dan politik. Namun demikian, Indonesia saat ini menghadapi tantangan untuk keluar dari middle income trap untuk menjadi negara dengan pendapatan perkapita tinggi dan oleh sebab itu perbaikan-perbaikan perlu terus dilakukan.

Pertemuan akan berlangsung hingga tanggal 26 Agustus 2014, dengan menghadirkan beberapa pembicara terkemuka antara lain Kepala BKPM RI, Mahendra Siregar, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara, Wamen PPN/Bappenas, Lukita D. Tuwo, Wamen Keuangan, Bambang Brojonegoro, serta sejumlah peneliti terkemuka seperti Sri Adiningsih dari UGM dan Rizal Sukma dari CSIS. Dari pihak Jepang hadir sejumlah pejabat tinggi dari berbagai Kementerian, akademisi dari sejumlah universitas terkemuka seperti GRIPS dan Waseda, serta tokoh-tokoh terkemuka dunia usaha Jepang.

JICA Indonesia – Japan Policy Dialogue merupakan forum pertemuan lima tahunan yang selalu diselenggarakan pasca Pilpres di Indonesia. Pertemuan ini merupakan forum tukar-pandang antara tokoh-tokoh terkemuka dari kedua negara mengenai kesinambungan dan penguatan kerjasama kedua negara di tahun-tahun mendatang. Pertemuan ini memiliki pamor yang cukup tinggi terlihat dari nama-nama besar yang menghadiri pertemuan ini.

Penyelenggaraan Policy Dialogue ini sendiri mencerminkan nilai strategis yang diberikan Jepang terhadap Indonesia, selain juga menunjukkan keinginan Jepang untuk terus memastikan keberlanjutan dan penguatan kemitraannya dengan Indonesia di berbagai aspek.