Bagaimana cara meningkatkan konservasi hutan agar sejalan dengan pemberdayaan masyarakat lokal dan tradisional di Indonesia? Inilah pertanyaan utama yang mengemuka dan menjadi tema dari Seminar yang diselenggarakan oleh Atase Kehutanan KBRI Tokyo bekerja sama dengan JICA (Japan International Cooperation Agency) dan lembaga swadaya masyarakat Japan Environmental Education Forum (JEEF). Seminar yang diselenggarakan di KBRI Tokyo pada Rabu, 19 Maret 2014 ini bertemakan Coexistence between Nature and Human Beings: Case Study in Indonesia.

Seminar bertujuan untuk mempromosikan dan meningkatkan minat investasi dan bantuan perusahaan Jepang bekerjasama dengan JICA untuk pengelolaan hutan konservasi di Indonesia. Dua perusahaan Jepang yang terlibat adalah PT. Amerta Indah Otsuka (PT. AIO) dan Sumitomo Forestry, Co.Ltd. yang telah berinvestasi melaksanakan program CSR (Corporate Social Responsibility) pada sektor kehutanan.

Dalam sambutan tertulisnya Duta Besar RI menekankan bahwa upaya konservasi hutan, termasuk hutan Indonesia adalah kepentingan semua pihak yang harus terus ditingkatkan demi kelangsungan masa depan dunia. Lebih lanjut, disampaikan juga apresiasi atas peran dan perhatian masyarakat dan pemerintah Jepang terhadap konservasi hutan Indonesia, utamanya melalui kerja sama konservasi antara kedua negara yang telah berlangsung selama 30 tahun. Kiranya kerjasama dapat ditingkatkan di masa mendatang dengan menaruh perhatian pada pemberdayaan masyarakat lokal yang menggantungkan hidupnya pada hasil hutan.

Beberapa hal yang dibahas dalam seminar ini, di antaranya adalah masalah kendala dan tantangan dalam pengelolaan, peluang usaha dan investasi di kawasan konservasi, pemberdayaan komunitas lokal dalam konservasi alam, serta sharing pengalaman terkait upaya-upaya konservasi lingkungan yang dilakukan melalui program CSR beberapa perusahaan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan Taman Nasional Ciremai.