Duta Besar RI untuk Jepang Dr. Yusron Ihza Mahendra telah menggelar diskusi awal tahun dengan Federasi Bisnis Jepang (Keidanren) yang merupakan asosiasi bisnis paling terkemuka di Jepang. Kegiatan yang diselenggarakan bekerjasama dengan lembaga think tank Keidanren, Keizai Koho Center (KKC), ini berlangsung di Kantor Pusat Keidanren, Tokyo, tanggal 18 Januari 2016.

Kegiatan ini bertujuan untuk terus mempromosikan berbagai peluang kerjasama ekonomi antara Indonesia dengan Jepang, dengan memberikan analisa yang mendalam mengenai berbagai aspek kerjasama kedua negara bagi dunia usaha Jepang. Acara berlangsung dalam bentuk breakfast discussion dengan format peserta terbatas yaitu 25 orang yang semuanya merupakan pimpinan perusahaan-perusahaan terkemuka Jepang. Turut menghadiri acara ini antara lain Bapak Shigeo Ohyagi, Ketua Komite Jepang – Indonesia Keidanren dan Chairman dari Teijin International Ltd.; Bapak Satoshi Mukuta, Senior Managing Director Keidanren; serta Bapak Masakazu Kubota, Presiden Keizai Koho Center.

Pada pertemuan tersebut, Dubes Yusron telah menyampaikan paparan yang komprehensif, tidak saja mengenai kerjasama Indonesia dan Jepang melainkan juga mengenai kondisi ekonomi dan politik di kawasan dan global.

“Kedua negara kita saling melengkapi, saling mengisi, dan saling membutuhkan,” demikian ditegaskan Dubes Yusron dalam mengawali paparannya. “Jepang merupakan mitra pembangunan terpenting bagi Indonesia, sementara Indonesia juga telah menopang keberlangsungan perekonomian Jepang”.

Dubes Yusron menyambut baik karena di tengah kondisi perekonomian kawasan dan global yang cukup menantang di tahun 2015 lalu, hubungan ekonomi kedua negara terus tumbuh kuat. “Total nilai ijin prinsip investasi yang dikeluarkan kantor investasi Indonesia di Tokyo tahun 2015 meningkat 96% dibandingkan tahun 2014,” demikian dicontohkan Dubes Yusron. “Hal ini menunjukkan tingginya kepercayaan dunia usaha Jepang akan prospek jangka panjang dari perekonomian Indonesia”.

Satu kecenderungan baru yang menarik adalah tumbuh pesatnya jumlah wisatawan Indonesia ke Jepang, dengan laju pertumbuhan 30% per tahun dalam beberapa tahun terakhir ini. “Jika kecenderungan ini terus berlanjut, paling lama 4 tahun lagi, pada tahun 2019, jumlah turis Indonesia ke Jepang akan lebih banyak daripada turis Jepang ke Indonesia”.

Untuk tahun 2016 ini, Dubes Yusron menyampaikan analisa bahwa terbuka peluang bagi pertumbuhan yang lebih cepat, walaupun berbagai tantangan yang ada masih cukup signifikan.  “Beberapa tantangan utama tersebut adalah masih berlanjutnya pelambatan ekonomi China, resesi ekonomi di beberapa negara berkembang utama seperti Brazil dan Rusia, serta dampak pelambatan ekonomi di negara berkembang terhadap kinerja ekonomi negara maju. Terdapat pula tantangan yang bersifat keamanan, antara lain ancaman terorisme yang dapat terjadi di negara manapun, serta masih berlarutnya berbagai konflik di Timur Tengah.”

Dubes Yusron juga menyoroti bahwa “di kawasan kita sendiri, potensi konflik di Laut China Selatan dan Semenanjung Korea masih tetap ada dan harus kita kelola dengan baik”. Mengingat seluruh negara di kawasan telah menikmati manfaat dari perdamaian dan stabilitas bagi peningkatan kemakmuran rakyat, maka Indonesia berharap semua negara di kawasan akan terus mengedepankan kerjasama dan dialog dalam mengatasi berbagai isu yang ada.

Dengan berbagai tantangan ini, Bank Dunia sebenarnya telah menurunkan estimasi pertumbuhan global di tahun 2016, dari perkiraan semula 3,3% menjadi 2,9 %. Sementara itu, perekonomian negara berkembang secara keseluruhan diperkirakan tumbuh 4,9%. Namun demikian, terkait Indonesia, “Bank Dunia justru memprediksi Indonesia tumbuh lebih pesat dari tahun 2015 dan juga lebih tinggi dari rata-rata negara berkembang lainnya, yaitu 5,3%. Hal ini tentunya mencerminkan kepercayaan Bank Dunia akan fundamental ekonomi Indonesia,” demikian diuraikan Dubes Yusron.

Karenanya, Dubes mendorong dunia usaha Jepang untuk terus meningkatkan kerjasama ekonomi, perdagangan dan investasi dengan Indonesia. Mulai berlakunya Masyakarat Ekonomi ASEAN (MEA) dinilai sebagai momentum yang baik. “Manfaat MEA akan dirasakan tidak hanya oleh negara-negara ASEAN melainkan juga negara-negara lainnya. Hal ini mengingat MEA dirancang sebagai kerangka kerjasama yang outward looking, sehingga MEA tidak akan membuat negara-negara ASEAN menutup diri, melainkan sebaliknya akan semakin memudahkan negara-negara dari luar kawasan untuk meningkatkan aktivitas perekonomiannya di ASEAN,” demikian dijelaskan Dubes Yusron.

Pada sesi diskusi, perwakilan dunia usaha Jepang telah menyampaikan pandangan a.l. mengenai isu TPP (Trans Pacific Partnership), terorisme, dan peningkatan iklim investasi dan bisnis Indonesia.

Terkait TPP, Dubes Yusron menjelaskan bahwa Indonesia akan terus mengikuti secara cermat perkembangan mengenai TPP, dan tengah mengkaji kemungkinan turut bergabung di dalamnya. “Tentunya, Indonesia berharap agar negara-negara TPP tidak selanjutnya membatasi kerjasama dengan non-anggota, melainkan sebaliknya dapat mengarahkan TPP untuk menjadi stimulus bagi tercapainya kemajuan di berbagai forum lainnya”, Dubes Yusron menyampaikan.

Terkait dengan terorisme, dan khususnya insiden di Jakarta tanggal 14 Januari 2016, Dubes menegaskan bahwa Indonesia mengutuk keras serangan teroris dan terus memegang teguh komitmen untuk memerangi terorisme. “Serangan terorisme sangat sulit diprediksi dan dapat terjadi di negara manapun. Namun demikian, aparat keamanan Indonesia berhasil menangani tantangan ini dengan baik dan cepat. Dalam waktu 30 menit, kepolisian Indonesia telah berhasil mengendalikan situasi, dan hanya dalam waktu 4 jam, kondisi di lokasi sudah kembali normal.”

Karenanya, Dubes Yusron mendorong dunia usaha Jepang untuk tidak mengkhawatirkan hal tersebut secara berlebihan, karena “Pemerintah Indonesia akan melakukan segala hal yang diperlukan untuk menjamin keselamatan dan keamanan seluruh penduduk, baik warga Indonesia sendiri maupun warga asing yang bermukim di Indonesia, termasuk warga Jepang.”

Mengenai peningkatan iklim investasi dan bisnis Indonesia, Dubes telah memaparkan 8 Paket Kebijakan Ekonomi baru yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia pada tahun 2015 lalu untuk terus memperbaiki dan meningkatkan daya saing serta ease of doing business di Indonesia, dan membagikan information paper berisi ringkasan dari masing-masing paket kebijakan tersebut.

Para pimpinan dunia usaha Jepang menyambut baik kegiatan diskusi ini. Antusiasme mereka yang tinggi membuat penyelenggaraan acara ini harus diperpanjang dengan tambahan waktu 30 menit daripada rencana semula.