“Ketika sedang menangkap ikan, meskipun ombak besar setinggi 4 meter menerjang tetap bisa kami terobos” ujar Aang Kunaefi, kepada tim KBRI Tokyo melakukan pelayanan kekonsuleran dan keimigrasian di kota Sendai, Prefektur Miyagi pada hari Sabtu (01/10/2016).

Selain melakukan pelayanan kepada masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah tersebut, tim juga melakukan diskusi dan mendengarkan kisah para WNI dalam melakukan aktivitasnya di Sendai, yang sebagian besar bekerja di bidang penangkapan ikan. Tantangan terbesar bagi mereka adalah menghadapi gelombang besar yang sewaktu-waktu datang dan menyapu habis hasil tangkapan ikan di kapal, yang tak jarang beresiko dengan kecelakaan. Dengan demikian, cara untuk bertahan hidup dari berbagai tantangan tersebut menjadi pengalaman dan pelajaran berharga bagi para WNI.

“KBRI dan jajaranya senantiasa berkomitmen dalam memberikan perlindungan kepada seluruh warga Indonesia yang bermukim di Jepang. Sekiranya membutuhkan bantuan agar menghubungi layanan hotline KBRI Tokyo, demikian dijelaskan oleh Wakil Kepala Perwakilan, Ben Perkasa Drajat.

WNI di Prefektur Miyagi kurang lebih berjumlah 543 orang yang mayoritas menjadi pemagang di kapal penangkap ikan, kemudian jumlah kedua terbesar adalah mahasiswa dan WNI yang menikah dengan orang Jepang. Para pemagang tersebut yang jumlahnya kurang lebih 150 orang berasal dari Sukabumi, Cirebon, Indramayu, Pelabuhan Ratu dan sekitarnya. Selama menjalani magang di Jepang, mereka tinggal di apartemen penampungan dengan jumlah hari kerja sebanyak 6 hari serta  rata-rata pendapatan mereka sebesar Rp. 10 juta per bulan yang secara rutin dikirimkan ke sanak keluarga di Indonesia. Apabila rezeki sedang baik dan mendapatkan lembur, mereka bisa mendapatkan Rp. 12-13 juta per bulan.