Sejumlah perwakilan buyers Jepang, kalangan diplomatik asing di Tokyo dan pemerhati wastra Nusantara dari Jepang memenuhi ruang lobby KBRI Tokyo guna menghadiri pertunjukan busana berbahan Tenun Tanimbar rancangan desainer Wignyo Rahadi hari ini (06/04).

Terinspirasi pakaian tradisi Jepang, Wignyo Rahadi mempersembahkan koleksi rancangan yang mengadaptasi model kimono, hakama, dan obi dengan tema “Metamorphoseast”. Rancangan tersebut menggunakan material tenun Tanimbar hasil pengembangan yang mengangkat motif Ulerati. Motif ini berupa barisan ulat-ulat kecil menyerupai garis panjang menerapkan teknik pengerjaan yang terbilang sulit dan membutuhkan waktu cukup lama yang dituangkan dalam dominasi warna biru dikombinasi dengan warna perak dan abu-abu yang elegan.

Tenun ikat Tanimbar dihasilkan para pengrajin tenun perempuan di Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Dengan menggandeng desainer Wignyo Rahadi, PT INPEX tergerak membangkitkan kembali tradisi setempat untuk melakukan revitalisasi terhadap tenun Tanimbar melalui pelatihan terhadap pengrajin lokal.

Sejak 2015, desainer dan owner brand Tenun Gaya, Wignyo Rahadi melakukan pendampingan terhadap para perempuan pengrajin tenun di Tanimbar untuk mengembangkan tenun Tanimbar yang terkesan kaku dengan warna yang rentan luntur menjadi produk fashion.

Program pengembangan tenun Tanimbar antara lain dengan pelatihan pewarnaan, penggunaan benang dengan kualitas lebih baik, penerapan teknik tenun dengan alat tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin dan eksplorasi desain motif. Tenun Tanimbar yang didominasi warna gelap seperti coklat, hitam, merah, dan biru tua, kini dikembangkan dengan pilihan warna terang.

Hasil pengembangan tenun Tanimbar pun telah dilirik oleh kalangan desainer untuk diaplikasikan dalam bentuk ready-to-wear. Bahkan motif tenun Tanimbar pun telah terpilih sebagai salah satu busana seragam yang digunakan oleh Presiden Jokowi dan para jajaran kabinetnya.