KBRI Tokyo Menyerahkan Bantuan untuk Korban Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Jepang

Pada tanggal 11 Juli 2018, Wakil Kepala Perwakilan RI Tokyo, Bapak M. Abas Ridwan telah menyampaikan sumbangan untuk korban bencana alam di Barat Jepang melalui _Japan Red Cross Society_ sebesar ¥ 290,000 di kantor JRCS Tokyo, Jepang.

Sumbangan ini merupakan hasil donasi yang dikumpulkan oleh Keluarga Besar KBRI Tokyo sebagai bentuk rasa solidaritas masyarakat Indonesia terhadap bencana alam di wilayah bagian Barat Jepang antara lain, Hiroshima, Okayama, Ehime, Gifu, Wakayama, Saga dan wilayah lain di sekitarnya. Hingga saat ini, bencana tersebut telah memakan korban jiwa sebanyak 156 orang.

Memperingati 60 Tahun Hubungan Bilateral Indonesia-Jepang, KBRI Tokyo Menggelar Seminar Perubahan Kebijakan Kehutanan Indonesia

Bertempat di Auditorium Universitas Waseda, KBRI Tokyo telah melaksanakan seminar perubahan kebijakan kehutanan di Indonesia bertajuk “Changing Paradigm of Forestry Policy In Indonesia: Toward Promotion of Community-based Sustainable Forest Management” pada Hari Kamis tanggal 28 Juni 2018.  Pelaksanaan seminar ini merupakan kerjasama KBRI Tokyo dan berbagai lembaga/organisasi lainnya seperti Universitas Waseda, Forestry Agency (Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang, MAFF), Japan International Forestry Promotion and Cooperation (JIFPRO) dan Japan Forest Technology Association (JAFTA) dan W-BRIDGE (Waseda-Bridgestone Initiative for Development of Global Environment).

Seminar sehari ini menghadirkan 16 pembicara dari berbagai sumber, baik dari lingkup Pemerintah Indonesia (Kementerian LH dan Kehutanan) dan Pemerintah Jepang (Forestry Agency-MAFF), organisasi internasional Jepang (JIFPRO, JAFTA, Institute for Global Environmental Strategies/IGES), kalangan swasta (Sumitomo Forestry, APP Indonesia, YL Forest, PT. Rimba Makmur Utama); dan Lembaga Swadaya Masyarakat (Belantara Foundation, Tenkawang Network, More Trees, JEEF). Seminar dimoderatori oleh kalangan akademisi Jepang diantaranya dari Universitas Waseda, Universitas Tsukuba, Universitas Nagoya, Kyushu Institute of Technology dan Kyushu University. 

Pelaksanaan seminar dilakukan dengan penyampaian sambutan  (Welcome Remarks) oleh Direktur Eksekutif Bidang Hubungan Internasional Universitas Waseda (Prof. Norimasa Morita) dan dibuka secara resmi oleh Wakil Duta Besar RI di Tokyo (Mochamad Abas Ridwan).  Selanjutnya seminar dilanjutkan dengan penyampaian Keynote Speakers oleh Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari, Kementerian LH dan Kehutanan (Dr. Hilman Nugroho Ibrahim) dan Wakil Direktur Jenderal Forestry Agency Jepang (Mr. Koji MAKIMOTO) untuk memberikan tinjauan terhadap hubungan bilateral Indonesia-Jepang di bidang kehutanan.

Dalam sambutan pembukaannya, Wakil Duta Besar RI menyampaikan bahwa Indonesia dapat belajar dari sejarah panjang Jepang dalam mengelola hutannya sebagai role model dimana pengelolaan hutan menjadi sumber penghidupan (“Mori  wa Chikyu no Takaramono) dan ekonomi masyarakat setempat karena hutan diberlakukan secara proporsional, harmonis dan modern dengan konsep keberlanjutan.  Disampaikan bahwa melihat banyaknya jumlah peserta seminar menunjukkan bahwa sektor kehutanan masih memainkan peran penting bagi peningkatan kerjasama kedua negara.  Selain itu, Jepang merupakan mitra strategis Indonesia, sehingga momentum 60 tahun hubungan bilateral Indonesia Jepang dapat dimanfaatkan untuk  meningkatkan kerjasama bidang kehutanan di masa mendatang dengan tidak lagi mengandalkan bantuan dan kerjasama teknis tapi lebih pada mitra kerjasama yang sejajar dan terpercaya, termasuk juga untuk bekerjasama dalam menangani isu-isu global. Secara khusus, Wakil Duta Besar RI Tokyo menyampaikan terima kasihnya kepada Pemerintah dan Publik Jepang atas bantuan dan kerjasama kehutanan yang telah terjalin selama ini.

Pada kesempatan ini, Direktur Jenderal PHPL Kementerian LH dan Kehutanan secara simbolis menyerahkan Piagam  berupa Prangko Edisi Khusus “Tanam dan Pelihara 25 Pohon Seumur Hidup” kepada Wakil Duta Besar RI Tokyo, Universitas Waseda dan Forestry Agency Jepang, yang dicanangkan Presiden RI Joko Widodo sebagai ajakan untuk melakukan kegiatan penanaman pohon minimal 25 pohon per warga untuk seumur hidup yang merupakan bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.  Angka 25 berasal dari tanam 5 batang saat jenjang SD, 5 batang SMP, 5 batang SMU, 5 batang perguruan tinggi dan 5 batang saat menikah.

Seminar diisi dengan pemaparan dan diskusi panel pada 4 sesi/tema.  Wakil Pemerintah Indonesia yang hadir sebagai pembicara adalah Dr. Rufi’ie (Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan, Kementerian LH dan Kehutanan) untuk pemaparan kebijakan pengelolaan hutan lestari untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs); Yuyu Rahayu, (Sekretaris Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, KLHK) untuk Pembangunan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Herudojo Tjiptono (Direktur Bina Usaha Perhutanan Sosial dan Hutan Adat, Kementerian LHK) untuk tema Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat; dan Dody Wahyu Karyanto (Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi, KLHK) untuk  Pengelolaan Hutan Berbasis Sumberdaya Ekosistem.  Seminar kemudian ditutup oleh Atase Kehutanan KBRI Tokyo (Dr. Riva Rovani) sebagai perwakilan pihak pelaksana KBRI Tokyo.

Agenda dan bahan presentasi secara lengkap dapat diunduh dengan mengunjungi situs https://kbritokyo.jp/forest2018/

.

Gitaris asal Jogjakarta mengharumkan nama Indonesia di Jepang

Pada tanggal 24 Juni 2018 dalam Japan International Ensemble Guitar Festival (JIEGF), para pemain gitar klasik Indonesia asal Yogjakarta memborong penghargaan.

– Duo Rocky memenangkan Juara Pertama sekaligus predikat Best Duo.

– Nocturnal Guitar Quartet memenangkan Juara Ketiga sekaligus Harumi Award untuk Best Performance of a Modern Guitar Piece.

– Nabita Guitar Duo memenangnkan penghargaan Best Student Award.

Ini merupakan prestasi luar biasa mengingat bahwa berbagai ensemble guitar dari Yogyakarta ini merupakan yang pertama kalinya Indonesia berpartisipasi dalam 30 tahun sejarah JIEGF.

KBRI Tokyo mengucapkan selamat atas prestasi para pemain gitar Indonesia di ajang bergengsi ini.

Konser Indonesia di Tokyo menarik Pangeran & keluarganya

Konser Budaya Indonesia yang diselenggarakan KBRI Tokyo di Yebisu Garden Hall pada tanggal 23 Juni 2018 menampilkan juara lomba paduan suara tingkat Eropa, The Resonanz Children’s Choir (TRCC) serta Kelompok Paduan Angklung (KPA) SMA3 Bandung.
Konser yang diselenggarakan dalam rangka memperingati 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Jepang ini juga menampilkan paduan suara pelajar SD dari Kota Kesennuma sebagai simbol persahabatan ke-2 bangsa. Para pelajar dari Prefektur (propinsi) Miyagi ini mengenakan kaos resmi peringatan 60 tahun tersebut.
Yang juga menarik bagi para penonton adalah hadirnya keluarga kerajaan Pangeran Akishino beserta istri dan ke-3 anaknya, sesuatu yang sangat langka dan memberi kenangan khusus bagi peringatan persahabatan ke-2 negara. Hal ini juga mendapatkan banyak perhatian dari kalangan media Jepang.
TRCC tampil memukai dengan berbagai lagu seperti “Sakura” dan “We Will Rock You”. Sedangkan TPA SMA3 Bandung membuktikan indahnya suara angklung saat membawakan aneka lagu termasuk “Star Wars Suite” dan lagu pasca gempa kawasan Tohoku di Jepang tahun 2011 yaitu “Hana wa Saku”.
Pada bulan Juni 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengunjungi kota Kesennuma yang menjadi korban tsunami, lalu menyerahkan bantuan kepada masyarakat kota tersebut. Kombinasi antara para pelajar, aneka lagu yang simbolis, serta hadirnya anggota keluarga Kerajaan Jepang menjadikan Konser Budaya Indonesia tersebut meriah dan berkesan bagi semua yang menyaksikan.

ASEAN – Jepang Sepakat Tingkatkan Kerja Sama untuk Perdamaian, Stabilitas dan Kesejahteraan Kawasan.

Peranan positif olah raga dalam membangun perdamaian (peace building) sudah tidak diragukan lagi potensinya. Hal tersebut disampaikan oleh Benny YP Siahaan, selaku acting SOM Leader ASEAN-Indonesia saat memimpin pembahasan mata agenda Heart-to-Heart Partners pada pertemuan ASEAN–Japan Forum (AJF) ke-33 yang berlangsung di Tokyo, Jepang, 13 Juni 2018.

“Olah Raga merupakan instrumen efektif yang mampu mempromosikan perdamaian. Hal ini dimungkinkan karena olah raga mengabaikan batas geografis dan kelas sosial. Tidak hanya itu, olah raga juga memainkan peran penting sebagai pendorong integrasi sosial dan pembangunan ekonomi dalam konteks geografis, budaya dan politik yang berbeda,” pungkas Benny.

Pada kesempatan ini, Indonesia juga menyampaikan apresiasinya terhadap dukungan yang diberikan negara anggota ASEAN dan Jepang pada pencalonan Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB 2019-2020 sekaligus mengajak Jepang dan negara anggota ASEAN untuk terus bekerja sama dalam upaya menciptakan ekosistem perdamaian dan stabilitas global.

Pertemuan AJF ke-33/2018 dipimpin bersama Jepang dan Brunei Darussalam selaku koordinator kemitraan ASEAN-Jepang.

Takeo Mori, Deputy Minister for Foreign Affairs/SOM Leader Jepang, dalam pidato pembukaannya menyatakan keinginan Jepang untuk terus mengembangkan kerja sama yang tangible dengan ASEAN. Sejak tahun 1973 -selama masa 45 tahun- ASEAN dan Jepang telah bekerja sama membangun kawasan yang damai dan sejahtera. Jepang juga telah menjadi mitra strategis ASEAN yang memfasilitasi pembangunan ekonomi, industri dan sumber daya manusia di kawasan. 

Memperhatikan perkembangan regional dan internasional yang penuh dengan ketidakpastian, ASEAN dan Jepang berkomitmen untuk lebih memperkuat kemitraan demi kesejahteraan bersama serta mendorong perdamaian dan stabilitas di kawasan, termasuk peran sentral ASEAN dalam mekanisme regional.

Terkait hal tersebut, Jepang menyampaikan briefing mengenai konsep Free and Open Indo Pacific (FOIP) sebagai inisiatif Jepang dalam mengupayakan kerja sama antara negara-negara di kawasan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Jepang menilai bahwa konsep ini mendukung prinsip ‘ASEAN Centrality’ dan memandang negara negara anggota  ASEAN sebagai ‘hub’ dari samudera Hindia dan Pasifik sehingga ASEAN memiliki peran penting dalam pengimplementasiannya. 

Indonesia dalam tanggapannya menyampaikan bahwa perubahan yang cepat pada tatanan geo-politik dan geo-ekonomi di kawasan menuntut adanya kerja sama di Kawasan Asia Indo–Pasifik yang mengedepankan prinsip-prinsip keterbukaan, transparansi, inklusif dan kepatuhan terhadap hukum internasional serta mendorong kerja sama dan persahabatan.

Kerja sama semacam ini dinilai akan menjamin perdamaian dan stabilitas di kawasan serta menciptakan kemitraan yang menguntungkan seluruh negara di kawasan. Untuk itu Indonesia memandang East Asia Summit (EAS) merupakan forum yang tepat guna membahas hal ini.

Kemitraan ASEAN dan Jepang diawali dengan dialog informal pada tahun 1973 dan berkembang menjadi kerja sama kemitraan formal pada tahun 1977. Kemitraan terus berkembang hingga pada November 2011, Jepang resmi menjadi mitra strategis ASEAN.

Di bidang kerja sama politik dan keamanan, Jepang aktif mendukung ASEAN dalam penanganan terorisme dan kejahatan terorganisir, keamanan siber, keamanan maritim, perlucutan senjata dan non-proliferasi. Sementara di bidang ekonomi, Jepang merupakan mitra dagang ke-4 terbesar bagi ASEAN. Kemitraan ini dituangkan dalam ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership (AJCEP) guna memperdalam integrasi ekonomi ASEAN-Jepang. Sedangkan di bidang sosial budaya, kerja sama keduanya terpusat pada peningkatan people-to-people contact. (Dit. KS Eksternal ASEAN)