Presiden RI Terima Kunjungan Kenegaraan Presiden Federasi Mikronesia ke Indonesia

Bogor: Presiden Joko Widodo menerima kunjungan kenegaraan dari Presiden Federasi Mikronesia, Y.M. Peter M. Christian di Istana Bogor. Indonesia dan Mikronesia telah menjalin hubungan bilateral sejak tahun 1991, dan kunjungan kali ini merupakan kunjungan kedua Presiden Mikronesia ke Indonesia, sejak tahun 1995.(18/7)

Meski Ibukota Jakarta dan Palikir secara geografis berjarak sekitar 5.800 km, Indonesia dan Mikronesia memiliki persamaan sebagai negara kepulauan yang berada di Kawasan Samudera Pasifik.  Selain kesamaan latar belakang dan budaya, sekitar 11 juta masyarakat Indonesia adalah etnis Melanesia. Bahkan masyarakat di Sulawesi Utara merupakan keturunan bangsa Polynesia.

Presiden Joko Widodo berharap kemitraan Indonesia dan Mikronesia dapat mendorong peran aktif kedua negara dalam memperkuat keamanan regional, mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan.

“Dalam konteks bilateral, saya senang dengan kemajuan dalam hubungan kerja sama antara Indonesia dan Federasi Mikronesia” ujar Presiden Joko Widodo.

Dalam kunjungan ini, kedua Presiden sepakat untuk meningkatkan kerja sama bidang maritim, ekonomi, sosial budaya, people-to-people contact dan konektivitas.  Kedua Kepala Negara juga sepakat membentuk forum konsultasi reguler guna membahas kerja sama konkret kedua negara.

Sebagai sesama negara kepulauan, kedua negara sepakat untuk tingkatkan kerja sama bidang maritim dan peningkatan konektivitas. Indonesia menawarkan pesawat N-219 yang saat ini tengah dikembangkan oleh PT. DI untuk meningkatkan konektivitas antar pulau.

Presiden Joko Widodo selanjutnya mengundang masyarakat Mikronesia untuk berpartisipasi pada Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia, dan pelatihan di bidang perikanan, pertanian, pariwisata serta pemberdayaan UKM. Di bidang ekonomi, Presiden RI juga mengundang pengusaha Mikronesia menghadiri Trade Expo Indonesia bulan Oktober 2018.

Selain isu bilateral, kedua Kepala Negara sepakat menjadikan Pacific Islands Forum sebagai wadah bagi pemajuan kerja sama negara Pasifik untuk kesejahteraan rakyat dan bangsa Pasifik.

Usai pertemuan, kedua Presiden telah menyaksikan penandatanganan Perjanjian Bebas Visa Paspor Dinas dan Diplomatik antara Indonesia dengan Mikronesia.  Diharapkan kesepakatan tersebut dapat semakin mempererat kerja sama dan saling kunjung antara para pejabat kedua negara.

Presiden Christian dijadwalkan untuk mengunjungi PT. DI di Bandung, serta Ambon. Presiden Peter M. Christian memiliki darah Ambon, sebagai generasi ketiga diaspora Maluku. Saat di Ambon, Presiden Mikronesia akan memberikan public lecture di Universitas Pattimura, mengunjungi Pelabuhan Perikanan Nusantara dan Pusat Ekonomi Tantui.(Sumber: Kemlu)

KBRI Tokyo Menyerahkan Bantuan untuk Korban Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Jepang

Pada tanggal 11 Juli 2018, Wakil Kepala Perwakilan RI Tokyo, Bapak M. Abas Ridwan telah menyampaikan sumbangan untuk korban bencana alam di Barat Jepang melalui _Japan Red Cross Society_ sebesar ¥ 290,000 di kantor JRCS Tokyo, Jepang.

Sumbangan ini merupakan hasil donasi yang dikumpulkan oleh Keluarga Besar KBRI Tokyo sebagai bentuk rasa solidaritas masyarakat Indonesia terhadap bencana alam di wilayah bagian Barat Jepang antara lain, Hiroshima, Okayama, Ehime, Gifu, Wakayama, Saga dan wilayah lain di sekitarnya. Hingga saat ini, bencana tersebut telah memakan korban jiwa sebanyak 156 orang.

Memperingati 60 Tahun Hubungan Bilateral Indonesia-Jepang, KBRI Tokyo Menggelar Seminar Perubahan Kebijakan Kehutanan Indonesia

Bertempat di Auditorium Universitas Waseda, KBRI Tokyo telah melaksanakan seminar perubahan kebijakan kehutanan di Indonesia bertajuk “Changing Paradigm of Forestry Policy In Indonesia: Toward Promotion of Community-based Sustainable Forest Management” pada Hari Kamis tanggal 28 Juni 2018.  Pelaksanaan seminar ini merupakan kerjasama KBRI Tokyo dan berbagai lembaga/organisasi lainnya seperti Universitas Waseda, Forestry Agency (Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang, MAFF), Japan International Forestry Promotion and Cooperation (JIFPRO) dan Japan Forest Technology Association (JAFTA) dan W-BRIDGE (Waseda-Bridgestone Initiative for Development of Global Environment).

Seminar sehari ini menghadirkan 16 pembicara dari berbagai sumber, baik dari lingkup Pemerintah Indonesia (Kementerian LH dan Kehutanan) dan Pemerintah Jepang (Forestry Agency-MAFF), organisasi internasional Jepang (JIFPRO, JAFTA, Institute for Global Environmental Strategies/IGES), kalangan swasta (Sumitomo Forestry, APP Indonesia, YL Forest, PT. Rimba Makmur Utama); dan Lembaga Swadaya Masyarakat (Belantara Foundation, Tenkawang Network, More Trees, JEEF). Seminar dimoderatori oleh kalangan akademisi Jepang diantaranya dari Universitas Waseda, Universitas Tsukuba, Universitas Nagoya, Kyushu Institute of Technology dan Kyushu University. 

Pelaksanaan seminar dilakukan dengan penyampaian sambutan  (Welcome Remarks) oleh Direktur Eksekutif Bidang Hubungan Internasional Universitas Waseda (Prof. Norimasa Morita) dan dibuka secara resmi oleh Wakil Duta Besar RI di Tokyo (Mochamad Abas Ridwan).  Selanjutnya seminar dilanjutkan dengan penyampaian Keynote Speakers oleh Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari, Kementerian LH dan Kehutanan (Dr. Hilman Nugroho Ibrahim) dan Wakil Direktur Jenderal Forestry Agency Jepang (Mr. Koji MAKIMOTO) untuk memberikan tinjauan terhadap hubungan bilateral Indonesia-Jepang di bidang kehutanan.

Dalam sambutan pembukaannya, Wakil Duta Besar RI menyampaikan bahwa Indonesia dapat belajar dari sejarah panjang Jepang dalam mengelola hutannya sebagai role model dimana pengelolaan hutan menjadi sumber penghidupan (“Mori  wa Chikyu no Takaramono) dan ekonomi masyarakat setempat karena hutan diberlakukan secara proporsional, harmonis dan modern dengan konsep keberlanjutan.  Disampaikan bahwa melihat banyaknya jumlah peserta seminar menunjukkan bahwa sektor kehutanan masih memainkan peran penting bagi peningkatan kerjasama kedua negara.  Selain itu, Jepang merupakan mitra strategis Indonesia, sehingga momentum 60 tahun hubungan bilateral Indonesia Jepang dapat dimanfaatkan untuk  meningkatkan kerjasama bidang kehutanan di masa mendatang dengan tidak lagi mengandalkan bantuan dan kerjasama teknis tapi lebih pada mitra kerjasama yang sejajar dan terpercaya, termasuk juga untuk bekerjasama dalam menangani isu-isu global. Secara khusus, Wakil Duta Besar RI Tokyo menyampaikan terima kasihnya kepada Pemerintah dan Publik Jepang atas bantuan dan kerjasama kehutanan yang telah terjalin selama ini.

Pada kesempatan ini, Direktur Jenderal PHPL Kementerian LH dan Kehutanan secara simbolis menyerahkan Piagam  berupa Prangko Edisi Khusus “Tanam dan Pelihara 25 Pohon Seumur Hidup” kepada Wakil Duta Besar RI Tokyo, Universitas Waseda dan Forestry Agency Jepang, yang dicanangkan Presiden RI Joko Widodo sebagai ajakan untuk melakukan kegiatan penanaman pohon minimal 25 pohon per warga untuk seumur hidup yang merupakan bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.  Angka 25 berasal dari tanam 5 batang saat jenjang SD, 5 batang SMP, 5 batang SMU, 5 batang perguruan tinggi dan 5 batang saat menikah.

Seminar diisi dengan pemaparan dan diskusi panel pada 4 sesi/tema.  Wakil Pemerintah Indonesia yang hadir sebagai pembicara adalah Dr. Rufi’ie (Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan, Kementerian LH dan Kehutanan) untuk pemaparan kebijakan pengelolaan hutan lestari untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs); Yuyu Rahayu, (Sekretaris Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, KLHK) untuk Pembangunan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Herudojo Tjiptono (Direktur Bina Usaha Perhutanan Sosial dan Hutan Adat, Kementerian LHK) untuk tema Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat; dan Dody Wahyu Karyanto (Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi, KLHK) untuk  Pengelolaan Hutan Berbasis Sumberdaya Ekosistem.  Seminar kemudian ditutup oleh Atase Kehutanan KBRI Tokyo (Dr. Riva Rovani) sebagai perwakilan pihak pelaksana KBRI Tokyo.

Agenda dan bahan presentasi secara lengkap dapat diunduh dengan mengunjungi situs https://kbritokyo.jp/forest2018/

.

Gitaris asal Jogjakarta mengharumkan nama Indonesia di Jepang

Pada tanggal 24 Juni 2018 dalam Japan International Ensemble Guitar Festival (JIEGF), para pemain gitar klasik Indonesia asal Yogjakarta memborong penghargaan.

– Duo Rocky memenangkan Juara Pertama sekaligus predikat Best Duo.

– Nocturnal Guitar Quartet memenangkan Juara Ketiga sekaligus Harumi Award untuk Best Performance of a Modern Guitar Piece.

– Nabita Guitar Duo memenangnkan penghargaan Best Student Award.

Ini merupakan prestasi luar biasa mengingat bahwa berbagai ensemble guitar dari Yogyakarta ini merupakan yang pertama kalinya Indonesia berpartisipasi dalam 30 tahun sejarah JIEGF.

KBRI Tokyo mengucapkan selamat atas prestasi para pemain gitar Indonesia di ajang bergengsi ini.

Konser Indonesia di Tokyo menarik Pangeran & keluarganya

Konser Budaya Indonesia yang diselenggarakan KBRI Tokyo di Yebisu Garden Hall pada tanggal 23 Juni 2018 menampilkan juara lomba paduan suara tingkat Eropa, The Resonanz Children’s Choir (TRCC) serta Kelompok Paduan Angklung (KPA) SMA3 Bandung.
Konser yang diselenggarakan dalam rangka memperingati 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Jepang ini juga menampilkan paduan suara pelajar SD dari Kota Kesennuma sebagai simbol persahabatan ke-2 bangsa. Para pelajar dari Prefektur (propinsi) Miyagi ini mengenakan kaos resmi peringatan 60 tahun tersebut.
Yang juga menarik bagi para penonton adalah hadirnya keluarga kerajaan Pangeran Akishino beserta istri dan ke-3 anaknya, sesuatu yang sangat langka dan memberi kenangan khusus bagi peringatan persahabatan ke-2 negara. Hal ini juga mendapatkan banyak perhatian dari kalangan media Jepang.
TRCC tampil memukai dengan berbagai lagu seperti “Sakura” dan “We Will Rock You”. Sedangkan TPA SMA3 Bandung membuktikan indahnya suara angklung saat membawakan aneka lagu termasuk “Star Wars Suite” dan lagu pasca gempa kawasan Tohoku di Jepang tahun 2011 yaitu “Hana wa Saku”.
Pada bulan Juni 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengunjungi kota Kesennuma yang menjadi korban tsunami, lalu menyerahkan bantuan kepada masyarakat kota tersebut. Kombinasi antara para pelajar, aneka lagu yang simbolis, serta hadirnya anggota keluarga Kerajaan Jepang menjadikan Konser Budaya Indonesia tersebut meriah dan berkesan bagi semua yang menyaksikan.