Menteri PPN Bambang Brodjonegoro: Indonesia Terus Dorong Pembangunan Infrastruktur agar Tidak Terjebak Middle Income Trap

Di sela-sela kunjungannya ke Tokyo, Jepang pada tanggal 19-21 April 2018, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bapak Bambang Brodjonegoro, telah menyampaikan kuliah umum mengenai perkembangan terkini pembangunan infrastruktur Indonesia bertempat di National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS).

Dalam paparannya, Menteri PPN menyampaikan bahwa guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional agar keluar dari middle income trap, maka pembangunan infrastruktur harus terus ditingkatkan. Pembangunan infrastruktur meliputi infrastuktur utama yang menjadi kebutuhan primer masyarakat, seperti akses untuk air minum, akses untuk sanitasi, serta akses listrik; infrastruktur yang mendukung sektor-sektor utama, seperti pembangunan jalan raya, daerah wisata, DAM, dan industri; serta pembangunan daerah urban, seperti kendaraan umum. Dalam implementasi pembangunan infrastruktur diperlukan dana yang cukup besar. Oleh karena itu, selain mendorong investasi asing, perlu adanya kerja sama antara pemerintah dan swasta dalam mendanai pembangunan tersebut.

Di akhir paparannya, Menteri PPN menyampaikan pesan kepada kalangan mahasiswa Indonesia yang hadir agar setelah menyelesaikan pendidikan di GRIPS dapat kembali ke Indonesia dan menerapkan ilmu yang diperoleh untuk turut berpartisipasi mendorong pembangunan nasional agar Indonesia dapat lolos dari middle income trap.

Menteri PPN berkunjung ke Tokyo, Jepang guna membuka dan menjadi pembicara pada Commemorative Symposium for the 60th Anniversary of Japan – Indonesia Diplomatic Relations.

Paparan mengenai “Isu-Isu Besar dari Pembangunan Indonesia di Tengah Gejolak Ekonomi Global”

Pada hari Rabu, 18 April 2018, Bapak Prof. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti PhD., MenteriKoordinator bidang Perekonomian periode tahun 2001 – 2004, telah menyampaikanpaparan mengenai IsuIsu Besar Pembangunan Indonesia di Tengah GejolakEkonomi Global bertempat di KBRI Tokyo. Pemilihan tema paparan mengenaipembangunan Indonesia sangat cocok, mengingat saat ini Pemerintah Indonesia tengah gencar menggalakkan pembangunan di berbagai sektor untuk mendorongpertumbuhan ekonomi.

Acara tersebut dibuka oleh Duta Besar RI Tokyo, Duta Besar Arifin Tasrif, dandihadiri oleh kalangan masyarakat Indonesia yang berada di Jepang. Dalampaparannya, Bapak Dorodjatun menyampaikan mengenai kondisi ekonomi nasionalsaat ini, potensi yang dimiliki, serta saran dan rekomendasi kebijakan yang sekiranya dapat diimplementasikan dalam menjalankan program pembangunannasional di tengah perkembangan situasi global yang dinamis. Diharapkan paparanini dapat semakin membuka cakrawala dan wawasan bersama sebagai bekal dalammendorong peningkatan kerja sama Indonesia dan Jepang ke depannya.

Menko PMK Paparkan Komitmen Indonesia Untuk Keselamatan Pasien pada The 3rd Global Ministerial Summit on Patient Safety di Tokyo

Sejak 2009, Indonesia telah memberlakukan Undang-Undang Rumah Sakit yang mewajibkan fasilitas kesehatan untuk melaksanakan program keselamatan pasien pada seluruh pelayanan kesehatan. Demikian disampaikan Menko PMK Puan Maharani dalam pertemuan Tingkat Menteri ke 3 tentang Keselamatan Pasien di Tokyo, Jepang, Sabtu (14/04).

“Tahun 2007, negara-negara anggota SEARO WHO telah mendukung Deklarasi Jakarta tentang Keselamatan Pasien bahwa tidak boleh ada pasien menderita cedera yang dapat dicegah, saat menerima perawatan di rumah sakit”, urai Menko Puan.

The 3rd Global Ministerial Summit on Patient Safety adalah sebuah forum global di tingkat menteri yang membahas tentang keselamatan pasien dalam perawatan kesehatan. Forum ini menjadi ajang bertukar pengalaman dari beberapa negara dalam mengatasi keselamatan pasien. Di depan peserta dari 44 negara yang terdiri dari 1 Presiden Swiss, 15 Menteri perwakilan negara, 8 organisasi internasional (WHO, World Bank, ADB Institue, dll) Menko PMK mendapat kehormatan menyampaikan pidato pandangan Pemerintah Indonesia tentang Keselamatan Pasien setelah tuan rumah Jepang.

Disampaikannya, untuk menjamin keselamatan pasien, Pemerintah Indonesia membentuk Komite Nasional untuk Keselamatan Pasien dan mengembangkan beberapa strategi, yaitu : Menetapkan prioritas pencegahan dan pengendalian infeksi pada pelayanan kesehatan; Menerapkan daftar pemeriksaan keselamatan bedah dari WHO untuk memastikan pasien ditangani sesuai SOP yang benar; dan Mengembangkan pedoman penanganan area spesifik yang memiliki risiko tinggi pada pelayanan kesehatan.

“Untuk memastikan kualitas pelayanan kesehatan, kami mengharuskan rumah sakit diakreditasi setiap tiga tahun guna meningkatkan kualitas dan keselamatan pasien melalui pendekatan manajemen risiko”, jelas Menko PMK.

Pada akhir pidatonya, Menko PMK menegaskan bahwa Indonesia memiliki komitmen kuat untuk menyediakan akses pelayanan kesehatan berkualitas. Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mencapai Cakupan Kesehatan Universal (UHC) pada tahun 2019, sejalan dengan Global UHC 2030. Saat ini Jaminan Kesehatan Nasional di Indonesia telah mencapai 74% penduduk atau lebih dari 195 juta jiwa. Menko PMK juga berharap Deklarasi Tokyo tentang Keselamatan Pasien yang merupakan hasil akhir pertemuan ini dapat mendorong perubahan sistem dan praktek pelayanan kesehatan, jaminan kesehatan, edukasi, kolaborasi pemerintah dan swasta, sehingga upaya keselamatan pasien dan UHC dapat tercapai secara efektif.

Kain Wastra dan Aksesoris Indonesia Dipromosikan di Museum Aksesori Tokyo

Dalam rangka pemberdayaan UKM Indonesia yang bergerak di bidang kain dan aksesori tradisional Indonesi maka Perempuan Wira Usaha Indonesia (Perwira) Ketua Umumnya, Elza Syarief melalui Koperasi Perempuan Indonesia (Koperwindo) bekerjasama dengan ATCI (Asian Textile Culture Institute) menyelenggarakan Indonesia Kain Party.

Kegiatan ini dibuka pada 3 April 2018 di Accessories Museum di Meguro, Tokyo. Peresmian pembukaan dilakukan oleh Duta Besar RI untuk Jepang, Arifin Tasrif di KBRI Tokyo di hari yang sama. Turut menghadiri acara ini adalah Dewi Soekarno, pemerhati wastra Indonesia dan para buyers dari Jepang yang telah memiliki komitmen kerjasama dengan Perwira.

Memeriahkan acara peresmian adalah peragaan busana oleh sejumlah desainer terkenal Indonesia yaitu Denny Wirawan, Deden Siswanto, Sofie, Riana Kusuma, Reny Bany, Syafitri, Juli, Syaikha, Yuku Moko, Wignyo Rahardi dan Nining Tara Tami.

Acara ditutup dengan penandatanganan MoU antara Perwira dengan ATCI dan Takahiro Adachi, seorang pengusaha pabrik tekstil dan pengusaha untuk pakaian yang masuk dalam jaringan departement store besar Jepang seperti Matsuya Ginza dan Mitsukoshi. MoU ini bertujuan untuk kerjasama pemasaran produk UKM dan IKM yg berada di bawah naungan Perwira dan dipasarkan oleh Koperwindo di Jepang secara berkesinambungan dengan agenda tahunan. Adapun produk-produk yang akan dipasarkan di Ginza antara lain karya designer Denny Wirawan, Deden Siswanto, tas batik Glam dan tas kulit ular dan buaya Fiefie Collection, serta produk-produk lainnya.

Pameran Kain Party ini akan berlangsung selama periode 3 April – 31 Juli 2018 dan dilanjutkan pada periode 1 September – 11 November 2018 bertempat di Accessories Museum di Meguro, Tokyo.

Pengusaha Indonesia di Jepang Didorong untuk Terus Kembangkan Jaringan Bisnis di Jepang

Pada hari Rabu, 4 April 2018 bertempat di Wisma Duta Besar RI Tokyo telah diselenggarakan kegiatan Gathering Asosiasi Pengusaha Indonesia di Jepang (APIJ). Gathering yang terselenggara atas kerja sama para pengurus APIJ dengan KBRI Tokyo tersebut dihadiri oleh Ketua Japan Indonesia Association (Japinda), Bapak Yasuo Fukuda, Ketua Indonesia – Japan Economic Committee, Bapak Shigeo Ohyagi, kalangan pengusaha Jepang dan Kementerian Luar Negeri Jepang.

APIJ yang berdiri pada 17 Agustus 2017 yang lalu memiliki tujuan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dan people to people contact, menyelenggarakan penelitian dan meningkatkan kesadaraan masyarakat Jepang mengenai Indonesia, serta menyelenggarakan pelatihan bisnis yang dapat berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi kedua negara. Hingga saat ini tercatat sebanyak 24 orang pengusaha Indonesia tergabung dalam APIJ, dengan sektor usaha diantaranya di bidang perdagangan, kuliner, travel, perikanan, perbankan, dan energi.

Penyelenggaraan kegiatan gathering dimaksud bertujuan sebagai sarana untuk saling berkenalan dan membangun jejaring antara anggota APIJ dengan mitra pengusaha di Jepang. Melalui jejaring yang terbentuk diharapkan dapat mendorong perkembangan APIJ dalam menjalankan visi dan misi ke depannya.

Duta Besar RI Tokyo menyampaikan kiranya pembentukan APIJ dapat menjadi perpanjangan tangan Perwakilan RI di Jepang dalam melakukan koordinasi dan implementasi kerja sama yang saling menguntungkan. Meskipun saat ini lingkup keanggotaan APIJ masih terbatas, namun diharapkan ke depannya keanggotaan APIJ akan terus tumbuh dan berkembang dengan dukungan dan bantuan dari mitra pengusaha di Jepang, khususnya Japinda dan Keidanren.