Beranda blog Halaman 35

Dubes Yusron Hadir di Istana Untuk Memenuhi Undangan Kaisar Jepang

Dubes Indonesia untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra, dan Nyonya Dewi Lusiana tiba di Istana Kaisar Jepang untuk memenuhi undangan Kaisar Akihito dan Ratu Michiko, Kamis sore (03/04). Undangan ini dimaksudkan sebagai acara ramah-tamah dengan Kaisar dan Ratu selepas penyerahan Surat Kepercayaan (Letter of Credential) kepada Kaisar yang dilakukan Dubes Yusron sekitar satu bulan sebelumnya.

Berbeda dengan saat penyerahanan Surat Kepercayaan yang dilakukan dalam bentuk upacara resmi kenegaraan, kali ini acara berjalan dalam suasananya lebih rileks dan diselingi suguhan minuman kopi dan teh. Faktor bahasa, boleh jadi merupakan faktor penting dalam menciptakan suasana rileks tersebut. Sebab, jika saat penyerahan Surat Kepercayaan Dubes Yusron memilih menggunakan Bahasa Indonesia (sebagai Bahasa Nasional), kali ini pembicaraan dilakukan dalam Bahasa Jepang sehingga dapat berjalan spontan tanpa interupsi oleh penerjemah dan juga tanpa jarak budaya yang terlalu lebar akibat faktor bahasa tadi.

Dalam pertemuan di atas, Kaisar sempat menanyakan kabar Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan juga tentang Pemilu. Dubes Yusron memberitahukan Kepada Kaisar bahwa Presiden berada dalam keadaan sehat serta menyampaikan salam dari Pemerintah Indonesia.

Terkait Pemilu, Dubes Yusron menyampaikan bahwa oleh karena Presiden Yudhoyono telah menjabat sebagai Presiden sebanyak dua kali, maka sesuai Undang-Undang Dasar, di bulan Oktober nanti  Indonesia akan dipimpin oleh Presdien baru. Namun, lanjut Dubes, dia percaya bahwa Presiden yang baru akan tetap meneruskan hubungan baik Indonesia-Jepang yang telah berjalan selama ini.

“Saya percaya bahwa langkah-langkah positif yang telah ditempuh Presiden Yudhoyono dalam hubungan Indonesia-Jepang akan diikuti dan menjadi suri tauladan bagi para pemimpin Indonesia berikutnya,” ujar Dubes Yusron.

Di luar topik resmi seperti di atas, dialog Dubes Yusron dengan Kaisar  lebih banyak menyangkut kehidupan sehari-hari. Kaisar, misalnya, bertanya tentang masa-masa saat Dubes Yusron mengambil S2 dan S3 di Universitas Tsukuba, yang berjarak sekitar satu jam perjalanan darat dari Tokyo. Kaisar juga sempat bercerita tentang kunjungannya ke Indonesia pada masa Pemerintahan Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto dan juga tentang kenangan manis saat menginap di Istana Bogor dan Istana Tampak Siring di Bali.

Sementara itu, Ratu Michiko banyak bercerita tentang kebudayaan Indonesia, terutama tentang Angklung dan lagu Bengawan Solo. “Saya amat menyukai Angklung dan amat gembira ketika  di masa lalu kami mendapat satu set Angklung sebagai cinderamata dari Pemerintah Indonesia,” ujar Ratu kepada  Nyonya Dubes Yusron.

Menurut Ratu, Angklung itu masih ada di Istana Kaisar dan mereka memainkannya pada saat-saat tertentu.

Baik Ratu atau pun Kaisar sempat berbicara tentang Bunga Sakura yang sedang mekar. Pada sisi tertentu di halaman Istana,  keindahan Bunga Sakura dapat dinikmati oleh masyarakat umum, ujar Kaisar dan Ratu.

Sosialisasi dan Pelayanan Terpadu Kepada Masyarakat Kumamoto

KBRI Tokyo bekerja sama dengan Forum Ukhuwah Masyarakat Indonesia di Kumamoto (FUMIKU) dan Persatuan Pelajar Jepang Komisariat Kumamoto (PPIJK) telah menyelenggarakan sosialisasi dan pelayanan terpadu kepada masyarakat Indonesia di Kumamoto, Jepang pada 2 Maret 2014.

Acara yang diselenggarakan bersamaan dengan Lomba Bulu Tangkis masyarakat Indonesia di Kumamoto ini dihadiri lebih dari 300 warga masyarakat Indonesia dari berbagai wilayah di prefekture Kyushu, seperti Kumamoto, Fukuoka, Saga, Nagasaki, Oita, Kagoshima, dan Miyazaki, dari berbagai lapisan, mulai dari pelajar, para trainee/pemagang (kensushei) maupun masyarakat indonesia secara umum.

Acara ini adalah upaya ‘jemput bola’ untuk melayani dan melindungi Warga Negara Indonesia (WNI) dan Badan Hukum Indonesia (BHI) yang berada di wilayah akreditasi KBRI Tokyo, selain juga untuk turut memutakhirkan data jumlah WNI di Jepang serta penyebarluasan peraturan-peraturan terkait WNI/BHI.

Duta Besar RI dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap kerja sama FUMIKU dan PPIKJ sehingga acara ini dapat terselenggara, selain juga ikut berbagi pengalaman terkait perjuangan yang harus ia lalui di awal masa kuliahnya di Jepang, 24 tahun yang lalu.

Komitmen Pemerintah Indonesia dalam Pemberantasan Korupsi

Press Release:

  1. Pemerintah Indonesia secara konsisten berkomitmen akan terus berupaya  mengedepankan upaya pemberantasan  korupsi melalui mekanisme hukum yang berlaku dengan berpegang teguh pada asas praduga tidak bersalah (presumption of innocence).
  2. Pemerintah Indonesia akan mengikuti dengan seksama perkembangan isu dugaan penyuapan yang dilakukan oleh Perusahaan Japan Transportation Consultant (JTC) yang diduga melibatkan pejabat pemerintah Indonesia yang dimuat dalam beberapa media setempat,
  3. Pemerintah Indonesia akan bekerjasama dengan seluruh pihak terkait termasuk pihak berwenang di Jepang dalam pemberantasan korupsi yang merupakan musuh bersama (common enemy) serta akan membantu penyelesaian masalah tersebut sesuai dengan prosedur dan ketentuan hukum yang berlaku.

Tokyo,  28 Maret 2014

Dubes Yusron Yakinkan Jepang Untuk Berinvestasi

Dunia usaha Jepang amat antusias untuk melakukan investasi bidang infrastruktur di Indonesia. Hal ini terungkap dalam acara “Market Sounding of Private Public Partnership Infrastructure Projects and Investment Opportunities in Special Economic Zones in Indonesia” yang diadakan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan KBRI Tokyo di Hotel Imperial, Tokyo, Rabu (26/3/2014).

Sekitar 300 kursi yang disediakan untuk acara di atas hampir seluruhnya dipenuhi para pengunjung dari kalangan dunia usaha Jepang.

“Sakura sedang mekar di luar sana dan cuaca pun cerah. Karena itu, saya yakin hari ini merupakan hari yang cerah bagi kita (Indonesia dan Jepang) untuk melangkah bersama di bidang investasi dan pembangunan ekonomi,” ujar Yusron Ihza Mahendra, Dubes RI untk Jepang, menyapa hadirin dengan bahasa Jepang saat membuka acara di atas.

Menurut Dubes, Indonesia merupakan tujuan investasi yang paling menjanjikan. Pendapat ini, menurutnya, bukan pendapat yang bersal dari Indonesia, melainkan pendapat yang dikutip dari JBIC (Japan Bank for International Cooperation) sendiri. Karena itu, pantas diyakini bahwa data ini amat objektif dan bukan data yang disampaikan untuk memuji Indonesia tanpa alasan, lanjut Dubes.

Dengan mengutip data hasil riset Citigroup, Dubes Yusron menyebutkan bahwa tahun 2050 mendatang, Indonesia diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi ranking ke-4 dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat, dengan GDP sebesar 45,9 trilyun dollar AS. GDP Jepang kala itu akan bernilai sebesar 16,39 trilyun dollar AS, alias peringkat ke-8 dunia. Ini bermakna bahwa GDP Indonesia pada tahun 2050 akan empat kali lipat lebih besar dari GDP Jepang, tegas Doktor Politik Ekonomi Internasional dari Universitas Tsukuba (Jepang) ini.

Lebih lanjut disebutkan pula bahwa menurut Lembaga Riset Nomura, pada tahun 2014, jumlah kelas menengah Indonesia akan mencapai 150 juta jiwa alias tiga kali lipat lebih besar dari Filipina yang berjumlah 47,4 juta jiwa, empat kali lipat Thailand yang berjumlah 39,9 juta jiwa, atau lima kali lipat dari Vietnam yang berjumlah 28,4 juta jiwa.

“Berdasarkan hal di atas, maka saya rasa tidak ada keraguan jika dikatakan bahwa Indonesia merupakan negeri yang memberi harapan besar bagi para investor Jepang,” tegas Dubes Yusron.

Usai pertemuan, banyak pengusaha Jepang yang menghubungi delegasi BKPM yang dipimpin oleh Tamba P Hutapea Deputi Kepala BKPM Bidang Perencanaan dan Penanaman Modal. Termasuk juga, para narasumber lain yang terdiri dari Kementerian Perhubungan, Pemerintah Kabupaten Batang, dan pimpinan PT JABABEKA. Pengusaha Jepang umumnya menanyakan lebih rinci proyek-proyek yang ditawarkan dan iklim investasi di Indonesia saat ini.

Sesuai tema acara, proyek-proyek yang ditawarkan BKPM kali ini adalah proyek-proyek berskala besar yang terkait bidang infrastruktur.

Menjaga Keseimbangan antara Alam dan Manusia

Bagaimana cara meningkatkan konservasi hutan agar sejalan dengan pemberdayaan masyarakat lokal dan tradisional di Indonesia? Inilah pertanyaan utama yang mengemuka dan menjadi tema dari Seminar yang diselenggarakan oleh Atase Kehutanan KBRI Tokyo bekerja sama dengan JICA (Japan International Cooperation Agency) dan lembaga swadaya masyarakat Japan Environmental Education Forum (JEEF). Seminar yang diselenggarakan di KBRI Tokyo pada Rabu, 19 Maret 2014 ini bertemakan Coexistence between Nature and Human Beings: Case Study in Indonesia.

Seminar bertujuan untuk mempromosikan dan meningkatkan minat investasi dan bantuan perusahaan Jepang bekerjasama dengan JICA untuk pengelolaan hutan konservasi di Indonesia. Dua perusahaan Jepang yang terlibat adalah PT. Amerta Indah Otsuka (PT. AIO) dan Sumitomo Forestry, Co.Ltd. yang telah berinvestasi melaksanakan program CSR (Corporate Social Responsibility) pada sektor kehutanan.

Dalam sambutan tertulisnya Duta Besar RI menekankan bahwa upaya konservasi hutan, termasuk hutan Indonesia adalah kepentingan semua pihak yang harus terus ditingkatkan demi kelangsungan masa depan dunia. Lebih lanjut, disampaikan juga apresiasi atas peran dan perhatian masyarakat dan pemerintah Jepang terhadap konservasi hutan Indonesia, utamanya melalui kerja sama konservasi antara kedua negara yang telah berlangsung selama 30 tahun. Kiranya kerjasama dapat ditingkatkan di masa mendatang dengan menaruh perhatian pada pemberdayaan masyarakat lokal yang menggantungkan hidupnya pada hasil hutan.

Beberapa hal yang dibahas dalam seminar ini, di antaranya adalah masalah kendala dan tantangan dalam pengelolaan, peluang usaha dan investasi di kawasan konservasi, pemberdayaan komunitas lokal dalam konservasi alam, serta sharing pengalaman terkait upaya-upaya konservasi lingkungan yang dilakukan melalui program CSR beberapa perusahaan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan Taman Nasional Ciremai.