Beranda blog Halaman 36

Dubes Yusron Buka International Symposium – OISAA 2014 di Tokyo

“Pelajar Indonesia di luar negeri harus terus berkontribusi dan memiliki semangat tinggi dalam memajukan Indonesia. Saya mengajak anda semua untuk menjadi mahasiswa yang dapat mentrasformasikan hal-hal positif di luar negeri untuk kemanfaatan Indonesia, khususnya saat  diberlakukannya Asean Economic Community tahun 2015 mendatang”, demikian dikatakan Dubes Yusron dalam sambutan pembukaan International Symposium-OISAA tahun 2014 (20/09/2014).

International Symposium of the Overseas Indonesia Student Association Alliance 2014 (OISAA 2014) merupakan salah satu kegiatan berskala besar yang diselenggarakan oleh PPI Dunia bertujuan untuk  membahas keorganisasian dan evaluasi kegiatan PPI Dunia, berbagi ide, serta merumuskan solusi baik berupa gagasan maupun tindakan nyata untuk Indonesia. Simposium OISAA  telah diselenggarakan lima kali sejak tahun 2007 dan untuk tahun ini,  dilaksanakan pada tanggal 20 September 2014 bertempat di Tokyo Institute of Technology, Jepang, dengan mengusung tema “Menggagas Kontribusi Generasi Muda Indonesia untuk Dunia”. Demikian menurut rilis KBRI Tokyo.

Dalam salah satu sesi diskusi panel, Atase Pendidikan KBRI Tokyo, Dr. M. Iqbal Djawad menjelaskan bahwa setiap pelajar memiliki kecakapan dan kemampuan diri yang merupakan aset berharga untuk mempercepat proses pembangunan nasional. Peningkatan kecakapan dan kemampuan diri ini salah satunya dapat dibantu dengan adanya dukungan dari lingkungan sekitar, salah satunya adalah dari tokoh-tokoh inspiratif. Berbagi pengalaman dan pandangan dengan tokoh-tokoh yang inspiratif karena karya, usaha, dan inovasi di bidangnya masing- masing akan dapat memberikan dampak positif untuk memacu semangat pelajar memahami peran dan posisinya dalam pembangunan masyarakat. Selain itu, berbagi pengalaman dan pandangan dengan tokoh-tokoh inspiratif dapat menumbuhkan perasaan saling mendukung dan meneladani satu sama lain sehingga memicu aksi dan kontribusi nyata para pelajar dalam mengaplikasikan ilmunya ke masyarakat untuk membangun kembali daerahnya dan menghubungkannya dengan dunia internasional.

Simposium yang dihadiri oleh kurang lebih 200 orang peserta, diantaranya dari 46 negara anggota yang tergabung dalam PPI Dunia yaitu Filipina, Singapura, Republik Rakyat Tiongkok, Thailand, Hongkong, Chinese Taipei, Tunisia, Mesir, Portugal, Finlandia, Yordania, Australia dan Jepang, akan berakhir pada tanggal 22 September 2014.

Peresmian Laboratorium Bahasa Asing di Sekolah Republik Indonesia – Tokyo

Direktur Utama PT. Pertamina (Persero), Karen Agustiawan, dan Wakil Kepala Perwakilan RI Tokyo, Jonny Sinaga, secara resmi telah membuka Laboratorium Bahasa Asing di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT) pada Jumat pagi (19/09/2014).

Dalam acara yang dilaksanakan di Balai Indonesia SRIT, turut juga mendampingi Kepala Sekolah SRIT, Supardo beserta para guru dan siswa SRIT serta para Kepala Perwakilan BUMN yang berada di Tokyo (BNI, Garuda Indonesia, BI dan Anekan Tambang). Dalam prosesi peresmian tersebut telah ditandatangani dokumen serah terima oleh kedua belah pihak dan dilanjutkan dengan pengguntingan pita sebagai tanda mulai dioperasikannya fasilitas laboratorium bahasa tersebut.

Dalam sambutannya, Karen Agustiawan menyampaikan harapannya agar bantuan Laboratorium Bahasa dari Pertamina dapat dipergunakan seoptimal mungkin, sehingga lahir siswa dan siswi SRIT yang cerdas, berbudi pekerti luhur serta mampu bersaing di era globalisasi ini. Ia juga berpesan kepada para siswa, agar selalu semangat dalam belajar, jangan mudah putus asa.

Menanggapi hal ini, Wakil Kepala Perwakilan RI Tokyo menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya atas sumbangsih PT. Pertamina (persero) memajukan pendidikan bagi anak-anak Indonesia melalui pendirian laboratorium bahasa asing tersebut. Juga disampaikan harapan dari KBRI dan SRIT agar kerja sama yang baik ini dapat terus ditingkatkan di masa yang akan datang.

Laboratorium bahasa ini adalah bantuan program CSR (Corporate Social Responsibility) PT. Pertamina (Persero) yang juga merupakan salah satu bentuk lanjutan kerja sama yang telah ditempuh sejak puluhan tahun yang lalu.  Salah satu tujuan kerja sama antara SRIT dan Pertamina, termasuk juga dalam pendirian laboratorium tersebut, adalah untuk meningkatkan proses belajar mengajar di SRIT yang ujung-ujungnya demi  meningkatkan mutu pendidikan anak-anak Indonesia yang mengenyam pendidikan di sekolah tersebut.

Pendirian laboratorium bahasa ini akan semakin melengkapi fasilitas-fasilitas yang telah terlebih dahulu dimiliki oleh sekolah yang telah berdiri sejak tahun 1962 di Meguro, Tokyo itu. Sebagai informasi, saat ini SRIT memiliki 75 siswa yang tersebar dari jenjang taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah pertama dan menengah atas.

Jepang Anugerahkan “Higashikuni-Nomiya International Prize” Untuk Dubes Yusron

Dubes RI untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra, mendapat penghargaan “The Higashikuni-Nomiya International Prize” yang dianugerahkan melalui upacara yang berlangsung di Tokyo hari ini (Kamis, 18/9-2014). “The Higashikuni-Nomiya Memorial Foundation” (lembaga dari lingkungan keluarga Istana Kekaisaran Jepang) dalam putusannya juga menetapkan Yusron sebagai penerima utama dari delapan penerima anugerah sejenis kali ini.

Sebelum Yusron, penghargaan serupa pernah pula dianugerahkan oleh lembaga di atas, antara lain, kepada Perdana Menteri (PM) Jepang Tekeo Miki, PM Yasuhiro Nakasone, PM Noboru Takeshita, dan Kiichiro Toyoda (Presiden Direktur Toyota Motor Company). Yusron adalah warganegara Indonesia pertama yang menerima penghargaan di atas.

The Higashikuni-Nomiya Memorial Foundation menganugerahkan penghargaan kepada Yusron atas karya akademis yang bersangkutan, yaitu disertasi S-3 di bidang Politik Ekonomi Internasional yang dipertahankan Yusron di Universitas Tsukuba, Jepang, pada tahun 1997. Panitia menilai karya tersebut sebagai karya monumental dan selangkah lebih maju dibanding pemikiran-pemikiran yang berlaku pada masa itu.

“Karena itu, maka  panitia merasa perlu untuk memberi penghargaan terhadap karya Yusron yang sekarang menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang,” ujar Profesor Akegawa dalam kata pengantar saat upacara penganugerahan penghargaan. Demikian menurut rilis KBRI Tokyo.

Upacara di atas dihadiri oleh sekitar seratus undangan VIP, termasuk kalangan akademisi, birokrat, politisi, dan praktisi ekonomi serta pelaku bisnis Jepang. Prosesi upacara selama sekitar dua jam ini berlangsung dalam nuansa amat resmi dan undangan diwajibkan mengikuti dress code (tatakrama pakaian) yang ditetapkan panitia.

Inti disertasi S-3 berbahasa Jepang berjudul “Ganko-Ketai Moderu no Shinwa-shei” (Mitos Model Flying Geese) yang ditulis Yusron empat belas tahun silam itu adalah sanggahan yang mengingkari keabsahan teori-teori tentang keajaiban ekonomi Asia yang sedang dielu-elukan dunia saat itu. Khususnya, teori Flying Geese Model, dimana Yusron membantah validitas fenomena keajaiban ekonomi Asia kala itu.

“Tidak ada yang ajaib dengan ekonomi Asia,” tulis Yusron dalam disertasinya. Pernyataan ini  diulangi Yusron dalam Pidato Kenangan-Kenangan (Memorial Speech) berbahasa Jepang saat penganugerahan penghargaan di atas. Alasannya, menurut Yusron, karena fenomena yang disebut sebagai “keajaiban” itu akan terjadi di mana pun juga (dan tidak hanya terbatas di Asia). Khususnya, jika Jepang melakukan relokasi industri melalui Penanaman Modal Asing Langsung (Foreign Direct Investment, FDI) ke sebuah negara.

Pemikiran tentang keajaiban ekonomi Asia adalah pemikiran menyesatkan (mis-leading) yang mendorong orang untuk percaya serta menganggap pertumbuhan ekonomi yang semu di Asia (selain Jepang) sebagai pertumbuhan yang sejati. Sejarah telah mencatat bahwa Kelengahan yang disebabkan oleh kepercayaan terhadap mitos keajaiban Asia ini, terbukti harus dibayar mahal oleh negara-negara Asia ketika pertumbuhan ekonomi Asia yang semu dan rapuh itu luluh-lantak dilibas krisis moneter dan krisis ekonomi Asia, sambung Yusron.

Yusron juga mengatakan bahwa apa yang disebutkan dalam Flying Geese Model, sama sekali berbeda dengan kenyataan di lapangan. Penelitian yang ia lakukan di Korea Selatan dan beberapa negara ASEAN sekitar empat belas tahun yang lalu membuktikan bahwa antara teori dan realita terdapat jurang yang amat dalam. Flying Geese Modelyang ditulis Profesor Kaname Akamatsu pertengahan tahun 1930-an, sambung Yusron, juga mrupakan teori usang yang tidak lagi dapat diterapkan di lapangan sebagai akibat perubahan zaman.

Dalam kaitan industri Asia selain Jepang, dalam penelitiannya, secara analogis Yusron mengatakan bahwa “pohon-pohon industri di Asia selaian Jepang adalah ibaratkan pohon-pohon yang ditanam di dalam pot dan tidak mengakar di bumi Asia. Karena itu, jika iklim berubah menjadi tidak kondusif, maka pohon-pohon tersebut akan dipindahkan pemiliknya ke negara lain, dan bumi Asia akan menjadi gersang.”

Pernyataan Yusron di atas, terbukti beberapa bulan setelah disertasinya diuji, yaitu saat krisis moneter dan krisis ekonomi Asia terjadi pada tahun 1998. Sejak itu, secara perorangan, banyak pihak di Jepang yang mulai mengakui kesahihan pemikiran Yusron tersebut, terutama ketika ringkasan disertasi itu diterbitan di Jepang tahun 1999.

“Menunggu empat belas tahun bagi pengakuan resmi oleh sebuah lembaga, mungkin memang terlalu lama. Tapi saya tetap bersyukur dan bahagia karena pengakuan itu akhirnya saya dapatkan juga pada hari ini,” ujar Yusron.

Dapat ditambahkan bahwa dalam disertasinya,Yusron juga memuktikan bahwa Flying Geese Model yang diklem sebagai ciptaan Profesor Kaname Akamatsu itu adalah karya plagiat atau jiplakan dari karya Friedrich List yang terbit di Jerman pada penghujung abad ke sembilan belas.

“Profesor Akamatsu telah melakukan peminjaman pemikiran orang lain secara tidak sah dan mengklem sebagai hasil pemikirannya,” tandas Yusron dalam pidatonya di hadapan hadirin yang sebagian besar berasal dari kalangan Jepang.

KBRI Tokyo Promosikan Peluang Investasi di Indonesia Kepada Dunia Usaha di Fukuoka, Hiroshima dan Tokyo

KBRI Tokyo bekerjasama dengan ASEAN – Japan Center (AJC) dan BKPM RI telah menyelenggarakan serangkaian program promosi investasi di beberapa kota di Jepang, yaitu Fukuoka melalui penyelenggaraan seminar tanggal 19 Agustus 2014; Hiroshima melalui serangkaian pertemuan dengan sejumlah pemangku kepentingan yaitu Hiroshima ASEAN Association, Hiroshima Industrial Development Association, dan Hiroshima Chamber of Commerce and Industry, tanggal 20 Agustus 2014; Tokyo melalui penyelenggaraan seminar tanggal 22 Agustus 2014.

Serangkaian program tersebut bertujuan untuk memaparkan dan mempromosikan kondisi terkini iklim investasi dan perekonomian di tanah air. Di samping itu, secara khusus, seminar di Fukuoka ditujukan untuk dapat secara langsung menjangkau dunia usaha di wilayah Selatan Jepang, sementara seminar di Tokyo juga bertujuan untuk mempromosikan peluang investasi di luar wilayah Jabodetabek yang masih menjadi fokus dari investasi Jepang. Keseluruhan program menghadirkan Direktur Pengembangan Promosi BKPM, Bapak Rudy Salahuddin, selaku narasumber utama.

Seminar investasi di Fukuoka dibuka oleh Wakil Kepala Perwakilan RI, Bapak Jonny Sinaga, sementara seminar di Tokyo dibuka langsung oleh Dubes Yusron Ihza Mahendra.

Bapak Jonny Sinaga dalam sambutannya di Fukuoka menyampaikan bahwa keberhasilan penyelenggaraan Pemilu di Indonesia tahun ini menunjukkan semakin matangnya demokrasi Indonesia, di mana demokrasi bersama dengan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi merupakan kunci dari pertumbuhan yang berkelanjutan. Dalam kaitan ini, saat ini hanya terdapat sedikit negara di kawasan yang mampu memadukan ketiga hal tersebut, termasuk Indonesia. Karenanya, Indonesia menyediakan landasan yang kuat bagi penanaman modal asing. Disampaikan pula dorongan agar investasi Jepang di Indonesia, di samping dapat memberi manfaat ekonomi kepada kedua pihak, juga dapat menghasilkan berbagai manfaat tambahan, termasuk menanamkan budaya kerja Jepang yang jujur dan disiplin.

Senada dengan hal tersebut, Dubes Yusron dalam sambutannya di Tokyo juga menggarisbawahi terus berkembangnya Indonesia secara positif baik di bidang ekonomi maupun politik, yang tentunya menciptakan iklim investasi yang kondusif dan berkesinambungan. Sebagai negara besar, peluang investasi di Indonesia tidak hanya tersedua di Jakarta, namun juga di berbagai daerah di Indonesia, yang masing-masing memiliki potensi dan keunggulannya tersendiri. Karenanya, Dubes mengundang dunia usaha Jepang untuk dapat meluaskan cakupan investasinya ke daerah-daerah lain di Indonesia.

Pada kedua seminar tersebut, Direktur Pengembangan Promosi BKPM telah memaparkan perkembangan terkini iklim investasi di tanah air, yang antara lain ditandai dengan terus meningkatnya economic outlook Indonesia sebagaimana tercermin dari berbagai indikator penilaian pihak ketiga serta pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, peningkatan jumlah kelas menengah, serta fundamental ekonomi yang terjaga. Dipaparkan pula mengenai upaya Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas dan cakupan sarana dan prasarana infrastruktur guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Sekretaris Jenderal AJC, Bapak Yoshikuni Ohnisi, juga berbicara pada kedua kesempatan tersebut.  Beliau menyoroti bahwa potensi yang dimiliki Indonesia tidak hanya bersumber dari pertumbuhan ekonomi dan kekayaan sumber daya alam, namun juga bonus demografi, yaitu jumlah penduduk yang besar dan kebanyakan masih berusia muda sehingga merupakan tenaga kerja yang produktif, serta peningkatan pesat jumlah kelas menengah Indonesia.  Akan segera berlakunya ASEAN Community di tahun 2015 juga tentunya akan membawa berbagai peluang baru yang perlu dimanfaatkan oleh dunia usaha Jepang, dan dalam hal ini, Indonesia selaku negara terbesar di ASEAN baik dari sisi luas wilayah, jumlah penduduk, maupun GDP, tentunya dapat menjadi basis yang strategis bagi operasi dan produksi perusahaan Jepang.

Seminar di Fukuoka dan Tokyo juga mendatangkan serangkaian pembicara dari kalangan swasta, yaitu dunia usaha Jepang yang telah melakukan investasi di Indonesia sehingga dapat menularkan “success story” mereka ke perusahaan Jepang lainnya. Sementara itu, mengingat tujuan khusus penyelenggaraan seminar di Tokyo untuk mempromosikan peluang investasi di luar Jakarta, seminar di Tokyo juga menghadirkan pembicara dari BPM (Badan Penanaman Modal) Propinsi Jawa Timur, sementara BKPMD Jawa Tengah juga mengirimkan bahan informasi yang dibagikan kepada seluruh peserta.

Penyelenggaraan serangkaian program ini mendapat tanggapan yang sangat positif dari dunia usaha Jepang, yang tercermin dari tingginya tingkat partisipasi. Seminar di Fukuoka dihadiri lebih dari 120 peserta, sementara di Tokyo sekitar 140 peserta. Adapun isu yang banyak menarik perhatian dunia usaha Jepang adalah prospek ekonomi Indonesia paska-Pemilu dan terbentuknya Pemerintahan baru, serta upaya Indonesia untuk terus meningkatkan iklim investasi dan competitiveness antara lain melalui peningkatan kualitas dan kapasitas infrastruktur dan energi, kepastian hukum, dan keselarasan prosedur antara pusat dan daerah.

Indonesia Yang Maju dan Makmur Akan Membawa Manfaat Besar Bagi Jepang

“Kemajuan Indonesia yang berkelanjutan di berbagai bidang, baik ekonomi maupun politik, akan membawa manfaat besar bagi Jepang, karena akan memperluas potensi cakupan kerjasama dan kemitraan antara kedua negara,” demikian disampaikan Dubes RI Tokyo, Yusron Ihza Mahendra pada pembukaan Indonesia – Japan Policy Dialogueyang diselenggarakan oleh JICA (Japan International Cooperation Agency) di Tokyo, tanggal 25 Agustus 2014.

Dubes Yusron mencontohkan bahwa di masa lalu Indonesia semata merupakan penerima bantuan pembangunan ODA dari Jepang (Official Development Assistance), saat ini kemajuan Indonesia telah memungkinkan untuk meluncurkan berbagai skema kerja sama, tidak terbatas hanya di antara kedua negara, namun juga kerjasama trilateral di mana kedua negara secara bersama membantu pembangunan di negara lainnya.

“Kemitraan Indonesia dan Jepang telah berkembang sedemikian luas sebagai suatu kemitraan sejati yang menghubungkan kedua bangsa secara erat dan bersahabat di berbagai aspek kehidupan dan membawa manfaat besar bagi rakyat kedua negara. Oleh sebab itu, tidak perlu diragukan lagi bahwa di bawah pemerintahan yang baru hasil Pilpres 2014 yang lalu, hubungan persahabatan kedua negara akan tetap terus berkembang,”. Demikian menurut rilis yang dikirm oleh KBRI Tokyo.

Turut memberikan sambutan pada sesi pembukaan adalah Menlu Jepang, Fumio Kishida, serta Presiden JICA, Akihiro Tanaka dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Bapak Ginandjar Kartasasmita, juga turut membuka pertemuan ini.

Menlu Kishida menekankan bahwa Jepang memandang penting hubungannya dengan Indonesia dan yakin hubungan kedua negara akan semakin baik di bawah pemerintahan baru.  Lebih lanjut, disampaikan bahwa Jepang mengakui peran penting Indonesia dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan.

Presiden JICA, selaku penyelenggara acara, menyambut baik para ahli dan tokoh penting yang hadir di JICA Indonesia – Japan Policy Dialogue, dan mengharapkan bahwa forum ini dapat memetakan jalan hubungan kedua pihak untuk masa yang akan datang. Lebih lanjut, ia menggarisbawahi peran Jepang di Indonesia, khususnya dalam membantu pembangunan infratruktur melalui Skema Metropolitan Priority Area (MPA).

Sementara itu, Prof. Ginandjar menyampaikan bahwa saat ini Indonesia telah mencapai kemajuan di berbagai bidang terutama di bidang ekonomi dan politik. Namun demikian, Indonesia saat ini menghadapi tantangan untuk keluar dari middle income trap untuk menjadi negara dengan pendapatan perkapita tinggi dan oleh sebab itu perbaikan-perbaikan perlu terus dilakukan.

Pertemuan akan berlangsung hingga tanggal 26 Agustus 2014, dengan menghadirkan beberapa pembicara terkemuka antara lain Kepala BKPM RI, Mahendra Siregar, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara, Wamen PPN/Bappenas, Lukita D. Tuwo, Wamen Keuangan, Bambang Brojonegoro, serta sejumlah peneliti terkemuka seperti Sri Adiningsih dari UGM dan Rizal Sukma dari CSIS. Dari pihak Jepang hadir sejumlah pejabat tinggi dari berbagai Kementerian, akademisi dari sejumlah universitas terkemuka seperti GRIPS dan Waseda, serta tokoh-tokoh terkemuka dunia usaha Jepang.

JICA Indonesia – Japan Policy Dialogue merupakan forum pertemuan lima tahunan yang selalu diselenggarakan pasca Pilpres di Indonesia. Pertemuan ini merupakan forum tukar-pandang antara tokoh-tokoh terkemuka dari kedua negara mengenai kesinambungan dan penguatan kerjasama kedua negara di tahun-tahun mendatang. Pertemuan ini memiliki pamor yang cukup tinggi terlihat dari nama-nama besar yang menghadiri pertemuan ini.

Penyelenggaraan Policy Dialogue ini sendiri mencerminkan nilai strategis yang diberikan Jepang terhadap Indonesia, selain juga menunjukkan keinginan Jepang untuk terus memastikan keberlanjutan dan penguatan kemitraannya dengan Indonesia di berbagai aspek.