Beranda blog Halaman 36

Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik di Jawa Tengah

J Power Berharap Hambatan Dapat Segera Teratasi

J Power, salah satu perusahaan pembangkit tenaga listrik terkemuka Jepang, melalui Presiden Direktur Masayosi Kitamura, menyatakan harapan agar hambatan dalam rencana pembangunan pembangkit tenaga listrik di Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah dapat segera teratasi. Harapan itu disampaikan Kitamura dalam pertemuan dengan Yusron Ihza Mahendra, Dubes RI untuk Jepang, di KBRI Tokyo, Rabu (12/3).

“Jika pembangunan pembangkit tenaga listrik  berkekuatan 2.000 Megawat itu dapat terlaksana, hal ini bukan hanya bermakna bagi kepentingan J Power, melainkan sekaligus juga bermanfaat bagi Indonesia. Kerjasama ini bersifat saling menguntungkan.” Demikian Kitamura menerangkan tentang pembangkit tenaga listrik berbahan bakar batubara dengan sistem ultra super critical termoderen dan terbesar pertama yang akan dibangun di Asia ini.

Dubes Yusron yang didampingi DCM Jony Sinaga dan beberapa atase menyatakan kepada pihak J Power bahwa pihaknya amat menyadari pentingnya pembangunan pembangkit tenaga listrik dimaksud.

“Tanpa pasokan tenaga listrik yang memadai, kita bukan saja akan terganggu dalam menjalankan tugas atau kehidupan sehari-hari. Melainkan, industri nasional kita juga akan terganggu dan kita  pun akan tersisih dalam persaingan menarik investor-investor asing dari berbagai bidang yang bermanfaat bagi pembangunan ekonomi kita,” ujar Yusron.

Pembangunan pembangkit tenaga listrik atas skema BOOT (Build-Own-Operate-Transfer) ini terhambat oleh persoalan teknis di lapangan, yaitu masalah pembebasan lahan.  Sebanyak 87 persen lahan untuk keperluan pembangunan pembangkit tenaga listrik ini telah berhasil dibebaskan, tapi 13 persen sisanya masih mengalami hambatan. Sedangkan, limit dari sisi pendanaan ada batas waktunya sehingga proyek ini ternacam gagal jika limit ini terlewati.

Kitamura memuji sikap Pemerintah Indonesia, terutama Menko Perekonomian Hatta Rajasa, yang telah mengambil langkah-langkah positif tentang hal ini. Termasuk, dicapainya kesepakatan perpanjangan waktu selama satu tahun. Namun demikian, jika tidak berhati-hati, batas waktu ini bisa terlewati.

Di akhir pertemuan, Dubes Yusron mengatakan bahwa KBRI Tokyo akan menghubungi pihak terkait di jajaran pemerintah Indonesia dan akan ikut berperan agar proyek di atas dapat terlaksana.

“Mengingat relevansinya dengan kepentingan nasional kita, proyek ini tidak boleh gagal. Apalagi proyek ini didasarkan atas skema BOOT dan bukan proyek berbasis hutang atau pinjamanan luar negeri,”  ujar Yusron.

Jepang Semakin Siap Hadapi ASEAN Community 2015

Para pengusaha Jepang yang tergabung dalam Aichi – Nagoya Network and International Exchange (ANNIE) kembali mengadakan pertemuan tahunan untuk mengantisipasi ASEAN Community yang akan diwujudkan tahun 2015 mendatang.

Dalam pertemuan di Nagoya tanggal 6 – 7 Februari 2014 yang diselenggarakan Gubernur Aichi dan Walikota  Nagoya bersama Nagoya Chamber of Commerce and Industry dan Nagoya Port Authority mengundang semua perwakilan ASEAN di Jepang untuk mengetahui secara langsung apa yang bisa dimanfaatkan para pengusaha Jepang dengan adanya Masyarakat ASEAN tersebut.

Dalam acara tersebut, walikota Nagoya Takashi Kawamura dalam pembukaannya menyampaikan bahwa tahun 2013 dari total perdagangan kota Nagoya yang mencapai 5,8 triliun Yen (sekitar Rp. 580 triliun), 15% berasal dari negara-negara ASEAN, dan kunjungan turis dari negara-negara ASEAN juga semakin meningkat setiap tahunnya.

Pembicara selanjutnya, Hirota Nakanishi, Assistant of Director of Trade and Investment Division ASEAN – Japan Centre (AJC) menyampaikan mengenai prospek ekonomi di ASEAN. Disampaikan bahwa wilayah Asia Tenggara merupakan wilayah dengan prospek ekonomi yang cukup tinggi. Populasi di wilayah Asia Tenggara telah meningkat sebesar 3 kali lipat menjadi 600 juta jiwa dalam kurun waktu 50 tahun terakhir. Selain itu, nilai Pendapatan Domestik Bruto (PDB) kawasan ini juga meningkat sebesar 60 kali lipat dalam 40 tahun dan nilai total perdagangan juga telah meningkat sebesar 15 kali lipat dalam kurun waktu 30 tahun saja. Hal-hal inilah yang menjadikan kalangan usaha Jepang terutama dari wilayah Prefektur Aichi dan sekitarnya memutuskan untuk meningkatkan hubungan dagang dan investasi dengan negara-negara ASEAN.

Perwakilan KBRI Tokyo yang mewakili Dubes Yusron Ihza Mahendra dalam paparannya menjelaskan bahwa masyarakat internasional, termasuk Jepang, perlu melihat tahun 2015 bukan sebagai tujuan akhir (final destination), tapi permulaan Masyarakat ASEAN (the beginning of ASEAN Community) yang akan menciptakan banyak peluang baik bagi ASEAN, maupun negara lain, termasuk pengusaha Jepang.

Indonesia sendiri berada pada posisi yang sangat baik dalam menghadapi 2015 itu karena pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,78% tahun 2013 lalu, dan para pengusaha Jepang semakin tertarik menanamkan modalnya di Indonesia dan Jepang menjadi investor terbesar di Indonesia pada tahun 2013 dengan nilai investasi US$ 4,71 miliar. Japan Bank for International Cooperation (JBIC) juga menjadikan Indonesia sebagai the most promising countries untuk investasi asing.

Disampaikan pula bahwa ASEAN dengan tiga pilar utamanya yakni politik keamanan, ekonomi, dan sosial budaya akan menjadikan ASEAN semakin solid. Hubungan ASEAN dengan Jepang, ditandai dengan disepakatinya visi bersama tahun 2013 pada pertemuan 40th Anniversary of ASEAN – Japan Commemorative Summit yang juga dihadiri Presiden SBY.

Pada umumnya para perwakilan negara-negara ASEAN menyampaikan bahwa pembentukan ASEAN Community akan sangat menguntungkan tidak hanya bagi negara-negara ASEAN tetapi juga bagi negara mitra utama ASEAN termasuk Jepang. ASEAN akan menjadi basis produksi serta pasar utama Jepang di masa mendatang. Oleh karena itu, ASEAN mengundang kalangan usaha Jepang termasuk kalangan usaha di wilayah Prefektur Aichi dan sekitarnya untuk dapat mengambil manfaat dari ASEAN Community dengan melakukan investasi di wilayah Asia Tenggara (KBRITokyo/Pen).

Dubes Yusron Sambut Hangat Bachdim Gabung di J-League

Irfan Harrys Bachdim, sosok pemain sepak bola nasional Indonesia itu terlihat memasuki lobby KBRI Tokyo bersama-sama dengan Mr. Umino Kazuyuki, Chairman of Ventforet Kofu dan Mr. Sakuma Satoru, General Manager Ventforet Kofu. Sesaat sebelum bertemu dengan Dubes Yusron Ihza Mahendra, Irfan sempat berfoto bersama dengan penggemarnya yang mengenali kehadirannya di KBRI Tokyo.

Diterima dengan sangat hangat oleh Dubes Yusron, Irfan Bachdim menceritakan secara singkat kedatangannya di Yamanashi yang terletak 150 km dari Tokyo, basis Ventforet Kofu di Jepang tanggal 29 Januari lalu. Meskipun dikatakan tahan dengan cuaca di Jepang, Irfan tidak bisa lepas dari panganan ala Indonesia seperti indomie dan abon.

Dalam pertemuan singkat tersebut, Dubes Yusron menyampaikan selamat datang kepada Bachdim, Kazuyuki dan Satoru dan sampaikan agar kehadiran Bachdim di liga Jepang akan mampu menjadi jembatan komunikasi budaya antara masyarakat dua negara. “Kehadiran anda sangat berarti bagi masyarakat Indonesia di Jepang” ujar Dubes Yusron kepada Bachdim. Dubes Yusron merasa bangga bahwa ada pemain sepak bola Indonesia yang akan berlaga di liga utama Jepang, J-League. Harapan ke depan tentunya akan semakin banyak pemain sepak bola Indonesia yang berlaga di liga bergengsi seperti J-League yang nantinya akan mendorong peningkatan kualitas persepakbolaan nasional.

Irfan Bachdim merupakan pemain pertama di Jepang dan menurut Kazuyuki, fans sepak bola Jepang sangat senang dengan kehadiran striker bernomor punggung 13 tersebut. Kehadiran Bachdim pada konferensi pers peluncuran channel Jepang “WakuWaku” di Indonesia akan menjadi penyambung kerinduan fans Indonesia akan sepak terjang Bachdim di lapangan hijau. Hal ini tidak lain karena liputan pertandingan J-League akan disiarkan di channel WakuWaku yang hadir di cable tv Indovision. Penonton tampaknya akan disuguhi rangkaian jadwal pertandingan J-League yang akan diumumkan secara resmi pada tanggal 31 Januari 2014.

Khusus untuk Indonesia, Kazuyuki katakan akan diadakan “Indonesian Day” match dimana sekitar 150 fans akan berkumpul di stadion nasional Tokyo sebelum stadion tersebut ditutup. Pertandingan tersebut akan menjadi pertandingan akhir dengan live broadcasting. Selain pertandingan “Indonesian Day” yang rencananya diadakan di hari akhir Golden Week, Kazuyuki juga utarakan mengenai kerja sama dengan Garuda Indonesia. Sebelum football, kerja sama Garuda Indonesia dengan Yamanashi, home dari klub Ventforet Kofu, sudah terjalin dengan adanya penyajian wine Yamanashi di penerbangan first class maskapai tersebut. Dengan adanya kerja sama sepak bola ini, diharapkan lebih banyak lagi pelajar dan mahasiswa, olahragawan dan pengusaha Indonesia yang datang ke Jepang. “Hal ini akan menjadi PR yang bagus sekali untuk Indonesia”, demikian dikatakan Kazuyuki kepada Dubes Yusron.

Selain menjanjikan akan menjadikan Irfan Bachdim a better player than before, Kazuyuki pastikan klubnya memiliki the best coaching team di Jepang dan di dunia. Untuk itu, Kazuyuki siap sekiranya tim nasional Indonesia bisa datang ke Yamanashi untuk melakukan playmatch dengan J-League pada saat World Cup break, di Shizuoka.

Bergabungnya Irfan Bachdim di Ventforet Kofu, menjadi awal dari ekspansi yang dilakukan J-League di Indonesia sekaligus menjadikan Irfan sebagai pemain Indonesia pertama yang berkiprah di J-League. Sebelumnya Ricky Yacobi pernah memperkuat FC Matsushita, atau yang kini lebih dikenal dengan nama Gamba Osaka di zaman pra-J-League.

Sebelum di kontrak oleh Ventforet Kofu, sepanjang tahun 2013 kakak ipar pemain Pelita Bandung Raya, Kim Jeffery Kurniawan ini bermain di Chonburi FC di Thailand dan sempat dipinjamkan ke klub satelit mereka Sriracha FC, di paruh kedua kompetisi. Sebelumnya Irfan beseragam Persema Malang pada tahun 2010-2012.

Deputi BI: Revitalisasi Sektor Riil Adalah Kunci

Deputi Bank Indonesia, Dr. Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan pembangunan Indonesia terletak pada kemampuan untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam rangka memenuhi permintaan dalam negeri. Hal ini terungkap dalam Briefing Perkembangan Ekonomi dan Kebijakan Moneter Indonesia yang diselenggarakan bersama oleh KBRI Tokyo dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Tokyo tanggal 22 Januari 2014. Selain dihadiri oleh staf KBRI Tokyo dan perwakilan BUMN di Tokyo, seminar ini turut pula dihadiri oleh sejumlah mahasiswa Indonesia di wilayah Tokyo dan sekitarnya.

Dalam kata sambutannya, KUAI KBRI Tokyo menyampaikan bahwa Indonesia dan Jepang merupakan mitra ekonomi strategis yang saling membutuhkan satu sama lain. Indonesia membutuhkan investasi Jepang sedangkan Jepang membutuhkan Indonesia sebagai pasar produk Jepang. Sebagai catatan, Jepang saat ini merupakan investor terbesar ke Indonesia dengan nilai investasi sebesar US$ 4,71 miliar pada tahun 2013 lalu. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kembali hubungan ekonomi kedua negara KBRI Tokyo telah menyusun langkah kerja guna meningkatkan kerjasama di bidang perdagangan, investasi dan pariwisata.

Dalam pemaparannya, Dr. Perry Warjiyo menyampaikan bahwa Indonesia setelah global financial crisis tahun 2009 lalu terbuai dengan aliran dana yang digelontorkan oleh sejumlah negara maju, terutama Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, dalam rangka upaya penyelamatan ekonomi. Setelah Amerika Serikat menghentikan kebijakan quantitative easing (tapering-off) era easy money pun berakhir. Selain itu, Indonesia yang selama ini mengandalkan ekspor produk komoditas mentah tanpa adanya nilai tambah turut merasakan dampak dari end of commodity supercycle yang ditandai oleh penurunan harga komoditas.

Hal-hal tersebut menyebabkan pelambatan pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara berkembang termasuk Indonesia. Selain itu, Indonesia ternyata juga terlambat untuk melakukan revitalisasi sektor riil. Sektor produksi Indonesia tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga mengakibatkan peningkatan nilai impor. Hal tersebut mengakibatkan defisit pada neraca perdagangan dan akhirnya memberikan tekanan kepada Neraca Pembayaran Indonesia tahun 2013

Jika siklus ini tetap berlanjut, ekonomi Indonesia dikhawatirkan akan memasuki tahap overheating dan akan mengganggu pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia bersama dengan Bank Indonesia sepakat untuk sedikit memperlambat tingkat pertumbuhan dalam negeri guna menekan tingkat impor serta memberikan waktu bagi peningkatan kapasitas produksi dalam negeri. Selain itu, jika industri nasional tidak dapat memenuhi tingkat permintaan dalam negeri secara terus-menerus maka Indonesia terancam terperangkap dalam middle-income trap.

Sebagai bentuk langkah antisipasi, Bank Indonesia telah mengeluarkan sejumlah langkah kebijakan seperti menaikkan BI Rate menjadi 7,5%, memperkuat operasi moneter, melakukan stabilisasi nilai rupiah, memperkuat kebijakan makroprudensial, memperkuat koordinasi dengan Pemerintah, dan memperkuat kerjasama antar bank sentral. Langkah-langkah tersebut diambil guna menjaga kepercayaan para investor asing guna menanamkan modalnya di Indonesia. Indonesia sangat membutuhkan aliran modal dari luar negeri guna revitalisasi sektor riil melalui investasi di berbagai sektor produksi.

Disinilah peran Perwakilan Indonesia di luar negeri menjadi sangat signifikan. KBRI Tokyo sebagai salah satu Perwakilan RI diharapkan dapat menarik arus modal asing ke Indonesia bagi peningkatan sektor-sektor produksi di tanah air. Investasi asing tersebut diharapkan dapat berdampak revitalisasi sektor riil dalam bentuk pembukaan lapangan pekerjaan baru, transfer teknologi, peningkatan nilai tambah hasil produksi dan pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi di tanah air.

Oleh karena itu, revitalisasi sektor riil merupakan kunci utama bagi upaya pencapaian tujuan dan cita-cita nasional. Revitalisasi sektor riil diharapkan dapat meningkatkan hasil produksi dan memberikan nilai tambah bagi barang produksi Indonesia sehingga Indonesia dapat tidak saja memenuhi permintaan dalam negeri namun juga memenuhi permintaan dari negara lain dalam bentuk peningkatan ekspor produk asal Indonesia.

Seusai briefing, sejumlah peserta berkesempatan untuk mengajukan beberapa pertanyaan dalam sesi diskusi. Dalam sesi tersebut terdapat beberapa isu yang mengemuka antara lain peran BI dalam mendukung revitalisasi sektor riil, upaya peningkatan investasi Jepang ke Indonesia, dan isu subsidi BBM (KBRITokyo/Pen)