Beranda blog Halaman 38

Pisang Indonesia Berhasil Menembus Pasar Jepang

Produk pisang Indonesia berhasil menembus pasar Jepang dengan masuknya ekspor perdana pisang Indonesia sebanyak 800 ton bulan ini.

“Keberhasilan ini merupakan pencapaian penting mengingat pasar produk pertanian Jepang sangat ketat,” demikian diutarakan Dubes Yusron di Tokyo hari ini (19 Juni 2015). “Jepang menerapkan standar mutu dan kesehatan yang sangat tinggi untuk impor produk pertanian. Karenanya, keberhasilan ini menunjukkan pengakuan akan tingginya standar kualitas produk pisang Indonesia”, Dubes Yusron menjelaskan.

Pada kesempatan pertemuan dengan eksportir pisang Indonesia, PT Transpacific Foods, dan agennya di Jepang, Transpacific Foods Japan Co. Ltd, telah dibahas pula mengenai upaya untuk terus meningkatkan pangsa pasar produk pertanian Indonesia di Jepang.

“Saat ini 96% pasar pisang di Jepang masih dikuasai Filipina,” demikian diutarakan Bapak Terry Bahar dari Transpacific Foods. “Namun kita yakin akan mampu terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produk kita. Ke depannya, kita menargetkan Indonesia akan mampu meraih antara 10% – 15% pangsa pasar Jepang”.

Total konsumsi buah Jepang saat ini tercatat sekitar 5,4 juta ton per tahun, di mana 1,8 juta ton diantaranya adalah buah impor. Pasar buah impor Jepang didominasi oleh pisang (1 juta ton per tahun) dan nanas (200.000 ton per tahun), sehingga impor untuk kedua jenis buah tersebut sudah mencakup 65% total impor buah Jepang. Nilai ekspor pisang dan nanas indonesia 2015 diperkirakan mencapai USD 15 juta. Indonesia juga sudah mengekspor nanas ke Jepang dengan pangsa pasar sekitar 20%. “Kita harapkan pencapaian di sektor pisang dan nanas ini akan diikuti produk buah-buahan lainnya,” Dubes Yusron menegaskan.

Pada kesempatan terebut, Dubes Yusron mendorong eksportir Indonesia untuk terus menjaga kualitas sehingga dapat mewujudkan target peningkatan pangsa pasar. “Kiranya keberhasilan ini juga dapat berdampak positif bagi peningkatan kesejahteraan para petani buah Indonesia,” demikian ditandaskan Dubes Yusron.

Pesona Papua Di Tanah Sakura

Untaian lagu khas Papua mengiringi lenggak-lenggok para peragawati yang memakai baju khas Papua modern memukau para undangan yang hadir pada acara pembukaan Papua Week 2015, Kamis 11 Juni 2015 di ASEAN Japan Center Hall, Tokyo. Acara Papua Week: To the Heart of the Bird of Paradise Land ini terselenggara berkat kerja sama KBRI Tokyo, Pemerintah Daerah Biak, Trip Advisors Indonesia dan ASEAN Japan Center (AJC) untuk memperkenalkan sekaligus mempromosikan daerah dan seni budaya Papua. 

“Saya memberikan apresiasi dan sangat berbangga dengan penyelenggaraan promosi budaya Papua yang baru pertama kalinya diadakan di Jepang. Papua adalah bagian dari Indonesia, sepatutnya kita turut mempromosikan daerah ini karena menyimpan berbagai potensi budaya dan pariwisata yang luar biasa”, ujar Dubes Yusron.  Indonesia berdiri atas dasar perbedaan dengan berbagai keunikan budaya dan disitulah kekuatan Indonesia berasal. Keunikan dan keeksotisan Papua merupakan harta berharga yang dimiliki Indonesia sehingga diharapkan makin banyak wisatawan Jepang yang mengunjungi berbagai daerah wisata di Papua, tegas Dubes Yusron. 

Acara ini menjadi istimewa karena anak dari Kepala Suku Dani, bernama Didimus Mabel turut serta datang dari Papua ke Tokyo. Kehadiran Didimus dengan berpakaian lengkap ala tradisi suku Dani, termasuk dengan koteka, tak diragukan lagi menjadi pusat perhatian para undangan.  Didimus dengan sabar melayani permintaan foto bersama sekaligus menerangkan asal usul dan budaya yang dimiliki suku Dani.

Papua Week 2015 masih akan berlangsung selama 4 hari mulai tanggal 11 Juni sampai 14 Juni 2015. Dalam rentang waktu tersebut, karya fotografi dari Evi Aryati Arbay dalam mengangkat budaya dan kehidupan Papua terutama seluk beluk Suku Dani akan terpajang untuk dapat memberikan gambaran kepada pengunjung mengenai Papua demikian dijelaskan oleh Kepala Fungsi Pensosbud KBRI Tokyo, Counsellor Ricky Suhendar. Tak lupa ditampilkan pula Noken, tas tradisional masyarakat Papua yang dibawa dengan kepala dan telah ditetapkan sebagai warisan budaya non-benda dari UNESCO.

Selain itu, acara akan berisi tentang presentasi promosi daerah Biak yang terkenal akan keindahan alam pantainya oleh Pemda Biak, pertunjukan tari dan musik tradisional Papua, serta pertunjukan peragaan busana modern Papua yang menggabungkan keunikan kostum Papua dengan rancangan gaya kosmopolitan hasil karya perancang Merdi Sihombing.

Find the Uniqueness of Papua

The Embassy of the Republic of Indonesia in Tokyo in collaboration with ASEAN-JAPAN Centre Tokyo and Trip Advisors Indonesia proudly present the PAPUA WEEK: “To the Heart of the Bird of Paradise Land”. Papua Week will be held at ASEAN Japan Center Hall, from 11 – 14 June 2015.

Papua is an island on the eastern part of Indonesia and known as the largest province in Indonesia. The provincial capital of Papua is Jayawijaya. There are around 250 ethnic groups including Dani Tribe which all of them still maintain their customs and traditions.

PAPUA WEEK will consist days of rare opportunity to learn and enjoy the diversity and beauty of the Papua island on the eastern part of Indonesia. It is a “Papua” through Evi Aryati Arbay’s ethno-photography, depicting the lives and cultural wisdom of the indigenous Dani “The Highlander” Tribe from the Baliem Valley, Jayawijaya region. The photographs are the testaments of Arbay’s passion for Papua. 

As the first exhibition overseas, “PAPUA WEEK” in Tokyo will offer a closer understanding of their tribal way of life through rituals, music, Baliem Valley Cultural Festival, costumes, beliefs, and art. PAPUA WEEK will also introduce the natural diversity and breathtaking destinations of both Jayawijaya region and Biak Islands. Where Baliem Valley in Jayawijaya region is world known as the Indonesia’s “Shangri-La”, Biak Islands are well-known for its famous pristine white sand and crystal clear water teeming with marine life, a natural library for bird lovers and a heaven for adventure and outdoor sport.

While enjoying the artworks and artist talk, Papua Fashion with designer Merdi Sihombing and Kanon Models will present the tribal uniqueness of Papua in a cosmopolitan style.

Kapal Ro/Ro dari Jepang turut Mendukung Program Tol Laut Indonesia

Kapal dengan nama baru yakni KMP Naraya siap berlayar dari pelabuhan di Onomichi, Hiroshima Jepang menuju ke Indonesia. Kapal ini merupakan kapal roll on / roll off penumpang yang dibeli di Jepang oleh perusahaan pelayaran Indonesia PT. Jemla Ferry dan rencananya akan melayani di lintasan Padang Bai, Lembar.

KapalRoro2-kbritokyo

Peresmian kapal dimaksud dilakukan pada tanggal 14 Mei 2015 yang dihadiri oleh Wakil Kepala Perwakilan RI Tokyo, Ben Perkasa Drajat beserta Atase Perhubungan dan staf.Prosesi peresmian dilakukan dengan penggantian nama kapal dari Naoshima II menjadi KMP Naraya serta bendera Jepang menjadi bendera Indonesia. Dalam kesempatan itu pula, Wakeppri Tokyo juga memberikan sambutan berupa motivasi kepada para kru kapal agar tetap menjaga keselamatan selama perjalanan.

Kapal yang diberi nama KMP NARAYA sebelumnya bernama NAOSHIMA II memiliki Gross Ton (GT) 999 panjang 67,61 m dan berkapasitas 450 orang dan 40 kendaraan. Kapal ini menambah jumlah armada Indonesia untuk mendukung program tol laut pemerintah Indonesia. Kegiatan ini merupakan bagian dari pelayanan yang diberikan oleh KBRI Tokyo terhadap WNI ataupun Badan Usaha Indonesia di wilayah akreditasi KBRI Tokyo.

Juara Sumo Jepang Promosikan Batik Indonesia

Hakuho, pemegang gelar juara sumo Jepang, tersenyum lebar saat berfoto bersama Dubes Indonesia untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra, dan para undangan dalam acara Promosi Batik di Wismaduta, KBRI Tokyo, Kamis (7/5-2015) kemarin. Promosi ini dihadiri oleh berbagai kalangan, sejak dari wakil pemerintah, para dubes negara sahabat, pengusaha, akademisi, serta petinggi Asosiasi Kimono Jepang.

Mantan PM Jepang Fukuda, yang sekaligus Ketua Himpunan Persahabatan Indonesia-Jepang beserta istri juga hadir dalam acara di atas.

”Saya mencintai batik”, ujar Hakuho, pemegang gelar juara sumo selama delapan tahun berturut-turut ini, di hadapan para undangan sambil memperagakan yukata batik yang dikenakannya.

“Saya tentu bukan hanya memiliki satu lembar ini saja, melainkan memiliki sejumlah yukata batik dengan motif-motif yang unik,” ujar Hakuko dan disambut tepuk tangan dan tawa ceria para undangan.

Kehadiran seorang pesumo dalam acara promosi batik kolaborasi Indonesia-Jepang di atas dinilai sebagai langkah yang tepat oleh kalangan Jepang. Terutama, karena sumo adalah olahraga strata khusus dan menduduki posisi terhormat dalam masyarakat tersebut.

“Hakuho, juara sumo (disebut sebagai Yokozuna) sekarang ini secara kebetulan murah senyum, tampan, dan amat dikagumi secara luas, terutama oleh para wanita di Jepang,” ujar salah seorang undangan yang tidak mau disebutkan namanya.

Karena itu, penampilan Hakuho dalam busana batik, pasti akan menarik perhatian masyarakat Jepang secara luas dan sekaligus akan semakin mengangkat citra batik, sambung sumber tadi.

Dubes Yusron Ihza Mahendra, dalama sambutannya menyebutkan bahwa sejak 2009 batik telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budya dunia. “Karena itu, saya berharap batik bukan hanya hadir di hati masyarakat Indonesia, melainkan sekaligus juga hadir di dalam sanubari bangsa-bangsa lain di dunia, terutama Jepang,” ujar Yusron.

“Seperti yang ikut ditampilkan dalam pamaren hari ini, desain batik sutra dengan motif nuansa kombinasi Jepang-Indonesia, amat mengagumkan. Motif itu melambangkan keharmonisan cita rasa kedua bangsa,” sambung Yusron.

Saya tidak pernah membayangkan bahwa Kimono Jepang dengan desain kreasi kombinasi seperti ini ternyata amat mengagumkan dan memberi harapan yang besar bagi dunia batik ke depan, ujar Yusron lebih lanjut.

Pameran Batik Kolaborasi Indonesia-Jepang ini diselenggarakan atas kerjasama KBRI Tokyo dengan Cross Cultural Artisan Association (CCAA). Keistimewaan batik-batik yang dipamerkan ini adalah bahwa motif batik-batik itu merupakan motif koloborasi yang merupakan “collaborative work” antara seniman Indonesia dan Jepang.

Batik dengan kualitas tinggi ini disebut dengan istilah “Refine Batik”.