Beranda blog Halaman 38

“Indonesia Day” di Yamaguchi Mendapat Sambutan Meriah dari Masyarakat Setempat

Festival budaya Indonesia dan seminar bisnis yang terangkum dalam kegiatan “Indonesia Day – One Country Thousand Cultures” sukses digelar oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Yamaguchi di Yamaguchi pada Sabtu (19/4/2014). Kegiatan yang didukung oleh KBRI Tokyo, KJRI Osaka, Garuda Indonesia dan pengusaha Indonesia di Yamaguchi tersebut merupakan yang pertama kalinya dalam sejarah diadakan di kota berpenduduk 1,5 juta jiwa tersebut.

Kegiatan festival budaya Indonesia dihadiri oleh sekitar 200 orang yang sebagian besar merupakan masyarakat setempat, sementara seminar bisnis dihadiri oleh 60-an pengusaha setempat. Kegiatan tidak hanya menarik perhatian masyarakat umum, tetapi juga pejabat daerah di Yamaguchi dan kota sekitarnya. Tidak kurang dari Gubernur Prefektur Yamaguchi, Walikota Yamaguchi, Walikota Ube dan Rektor Universitas Yamaguchi hadir pada rangkaian kegiatan tersebut.

Festival budaya dimeriahkan dengan tarian dari berbagai daerah, seperti dari Lampung, Yogyakarta, Aceh, dan sebagainya serta lagu dangdut. Selain itu, stand makanan khas Indonesia, display kerajinan dan demo alat musik tradisional, serta pelayanan kekonsuleran oleh KJRI Osaka membuat pelataran Universitas Yamaguchi menjadi khas Indonesia pada hari itu.

Duta Besar RI untuk Jepang, Dr. Yusron Ihza Mahendra, dalam sambutan pembukaannya menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada PPI Yamaguchi yang telah aktif mempromosikan budaya Indonesia di Yamaguchi. Diplomasi budaya yang dilakukan oleh PPI tersebut akan mendorong people to people contact dan saling pengertian di antara masyarakat kedua negara, yang pada gilirannya memberikan kontribusi positif bagi kerjasama yang lebih erat di berbagai bidang.

Dalam acara seminar bisnis, Dubes Yusron Ihza Mahendra, mengajak pengusaha setempat untuk berinvestasi di Indonesia. Kedua negara memiliki kepentingan yang saling melengkapi dan peluang terbuka lebar untuk hubungan bisnis yang saling menguntungkan, terlebih lagi mengingat pertumbuhan dan prospek ekonomi Indonesia di masa mendatang, yang menurut prediksi Citigroup, akan masuk menjadi 4 besar dunia di tahun 2040.

Menlu Jepang Meminta Pandangan Menlu RI Mengenai Upaya Global Bagi Penghapusan Senjata Nuklir Serta Penguatan Kerja Sama Bilateral

Menlu RI Marty Natalegawa pada tanggal 11 April 2014 telah mengadakan pertemuan bilateral dengan Menlu Jepang Fumio Kishida di sela-sela menghadiri pertemuan internasional bagi penghapusan senjata nuklir dan perlucutan senjata (Non-Proliferation and Disarmament Institute / NPDI) di Hiroshima, Jepang.

Kehadiran Menlu Marty di Hiroshima adalah guna memenuhi undangan Menlu Jepang menjadi pembicara tamu pada pertemuan NPDI.  Walaupun Indonesia bukan negara anggota NPDI, namun negara-negara NPDI tertarik mendengar pandangan Indonesia mengenai penghapusan senjata nuklir, khususnya karena mengakui konsistensi sikap Indonesia dalam masalah ini.

Di samping itu, kedua Menlu juga bertemu guna membahas penguatan hubungan bilateral kedua negara. Antara lain, keduanya membahas penanganan beberapa isu di bidang ekonomi, serta peningkatan kerjasama kedua negara dalam mendukung perdamaian dan keamanan di kawasan Asia Pasifik.

Kedua Menlu mempertegas kembali komitmen untuk selalu memperkuat hubungan kedua Negara secara komprehensif dan sistematis, dan akan menjajaki kemungkinan penyelenggaraan pertemuan bersama Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan kedua negara dalam waktu dekat.

Pada kesempatan kunjungan di Hiroshima, di samping melakukan pertemuan-pertemuan tersebut di atas, Menlu Marty juga mengadakan pertemuan bilateral dengan Menlu Jerman Frank-Walter Steinmeier, dan mengikuti acara di Hiroshima Peace Memorial Monument.

Hiroshima, 11-12 April 2014

PM Abe Berharap Peningkatan Kemitraan Strategis Jepang-Indonesia Segera Terlaksana

PM Jepang Shinzo Abe berharap bahwa kerjasama strategis antara Jepang-Indonesia akan dapat semakin ditingkatkan, utamanya dalam kaitan stabilitas Kawasan Asia Timur.  Untuk itu, sebuah format kerjasama yang akan menjadi dasar atau kerangka bagi peningkatan kerjasama ini amat diperlukan.

Pernyataan di atas disampaikan PM Abe kepada Dubes Indonesia untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra dalam pertemuan di Kantor Perdana Menteri Jepang di Tokyo, Kamis (10/4).  Sehari sebelumnya, Dubes Yusron berkunjung ke Wakil PM Taro Aso, yang sekaligus merupakan Menteri Keuangan Jepang.

Dalam pertemuan dengan PM Abe, Dubes Yusron hadir dengan didampingi oleh Wakil Kepala Perwakilan RI, Jonny Sinaga, Bambang Suharto dan Norman Effendi (masing-masing merupakan penanggung-jawab Bidang Ekonomi dan Bidang Politik KBRI Tokyo).

Terkait kerjasama strategis, PM Abe menyinggung kembali “Forum 2+2” (Two Plus Two Forum), yaitu forum dimana Menteri Pertahanan dan Menteri Luar Negeri kedua negara dapat duduk bersama guna membahas isu-isu strategis, baik dalam skala kawasan atau pun dalam skala global. Gagasan ini telah disampaikan PM Abe kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pertemuan kedua Kepala Pemerintahan di Tokyo bulan Desember tahun lalu. Dan, kali ini PM Abe kembali menegaskan hal itu.

“Saya berharap bahwa Pertemuan 2+2 dapat segera terselenggara dalam tahun 2014 ini. Untuk ini maka saya meminta kepada Dubes menyampaikan persoalan ini kepada Pemerintah Indonesia,” kata PM Abe sembari menyatakan bahwa forum ini amat penting dalam meningkatkan kerjasama strategis Jepang-Indonesia ke level yang lebih tinggi.

Menanggapi hal di atas, Dubes Yusron menyatakan sepakat bahwa negara-negara di Kawasan Asia Timur harus berperan dalam menjaga stablitas kawasan dan bahkan ikut berkontribusi bagi stabilitas global. Untuk ini maka kerjasama strategis termasuk kerjasama di bidang industri strategis antara kedua negara amat diperlukan.

Sebagai Mantan Wakil Ketua Komisi I DPR RI untuk Bidang Pertahanan, pernyataan Dubes Yusron di atas (sebagai mana diakuinya) adalah terkait dengan upaya pengembangan industri-industri strategis di Indonesia, seperti PT DI, PT PAL, PT Pindad dan lain-lain yang tergabung dalam BUMNIS (Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis). Pengembangan industri-industri ini dinilai bukan saja bermakna bagi pertahanan nasional, melainkan sekaligus akan memberi kontribusi yang besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain permasalahan di atas, Dubes Yusron juga menyampaikan permohonan kepada PM Abe tentang pembebasan visa bagi warganegara Indonesia yang akan berkunjung ke Jepang. Dan, permohonan ini dijawab langsung oleh PM Abe dengan meminta Pejabat Kementerian Luar Negeri Jepang yang hadir dalam pertemuan itu untuk mengambil tindak-lanjut yang segera.

Masalah Economic Research Instutute for ASEAN and East Asia (ERIA) yang berkedudukan di Jakarta dan dibiayai pemerintah Jepang, juga ikut dibahas dalam pertemuan di atas. Terutama sekali, dalam percepatan integrasi ekonomi Kawasan Asia Timur. Toshihiro Nikai (Anggota Parlemen yang sekaligus perancang ERIA saat menjabat Menkeu Jepang) yang juga hadir dalam pertemuan di atas bersama salah satu anggota parlemen yang lain ikut menekankan pentingnya ERIA.

Gerimis dan Dingin Bukan Hambatan Bagi WNI di Tokyo Untuk Datangi TPS

Suhu udara dingin dan hujan gerimis tidak menjadi hambatan bagi WNI yang bermukim di Tokyo dan sekitarnya untuk memberikan suara dalam Pemilu Legisliatif Periode 2014-2019 yang digelar hari ini, Minggu (6/4-2014). Hal ini terlihat dari berduyun-duyunnya warga yang dengan antusias mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang berlokasi di Ruang Serba Guna Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT) sejak jam 8.00 pagi waktu setempat.

Mereka yang datang ke TPS bukan hanya para pemilih dari 24 Kecamatan yang ada di Tokyo, melainkan juga mereka yang bermukim di kota-kota yang berdekatan, seperti Chiba, Saitama, Yokohama, dan Kawasaki. Mereka umumnya datang dengan mengunakan pakaian tebal karena suhu udara di awal musim semi yang sempat hangat, tiba-tiba saja turun sekian derajat pada hari ini.

Dubes RI untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra, dalam sambutan menjelang pemungutan suara, menyampaikan appresiasi kepada panitia dan kepada warga yang hadir. “Mari kita bedoa agar Pemilu berjalan dengan baik dan lancar,” ujar Dubes dalam sambutan singkatnya.

Menurut data PPLN Tokyo, dewasa ini terdapat 10.656 warga yang tersebar di 30 Ken (semacam provinsi) di Jepang yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan Daftar Pemilih Khusus (DPK). Namun hanya sebagian kecil saja dari mereka yang terdaftar pada TPS di atas. Selebihnya, para pemilih memilih dengan cara mengirimkan surat suara melalui pos.

Sampai jam 17.00 waktu setempat (atau sekitar satu jam sebelum TPS ditutup), proses pemberian suara tetap berjalan lancar seperti yang diharapkan. Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Tokyo menyediakan 10 bilik suara pada TPS di atas. Terutama, untuk mengantisipasi jumlah pemilih yang akan mengalami peningkatan pada siang hari.

Sejumlah pemilih yang tidak terdaftar dalam DPT diakomodir PPLN Tokyo untuk memberikan suaranya, sejauh persyaratannya dipenuhi sesuai undang-undang. Sebagai misal, mereka yang baru pindah ke Tokyo, pindah alamat, atau pun yang secara kebetulan sedang berada di Tokyo untuk suatu rusan.

Usai pemberian suara, banyak warga yang bersantai dan bersilaturrahmi sambil menikmati jajanan khas Indonesia, seperti bakso, siomai, sate, bakmi, dan nasi goreng yang dijual oleh warga. Sakura yang sebagian masih tersisa sehabis diguyur hujan, ikut memberi nuansa bagi hari penting WNI yang bermukim di Tokyo dan sekitarnya ini.

Dubes Yusron Hadir di Istana Untuk Memenuhi Undangan Kaisar Jepang

Dubes Indonesia untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra, dan Nyonya Dewi Lusiana tiba di Istana Kaisar Jepang untuk memenuhi undangan Kaisar Akihito dan Ratu Michiko, Kamis sore (03/04). Undangan ini dimaksudkan sebagai acara ramah-tamah dengan Kaisar dan Ratu selepas penyerahan Surat Kepercayaan (Letter of Credential) kepada Kaisar yang dilakukan Dubes Yusron sekitar satu bulan sebelumnya.

Berbeda dengan saat penyerahanan Surat Kepercayaan yang dilakukan dalam bentuk upacara resmi kenegaraan, kali ini acara berjalan dalam suasananya lebih rileks dan diselingi suguhan minuman kopi dan teh. Faktor bahasa, boleh jadi merupakan faktor penting dalam menciptakan suasana rileks tersebut. Sebab, jika saat penyerahan Surat Kepercayaan Dubes Yusron memilih menggunakan Bahasa Indonesia (sebagai Bahasa Nasional), kali ini pembicaraan dilakukan dalam Bahasa Jepang sehingga dapat berjalan spontan tanpa interupsi oleh penerjemah dan juga tanpa jarak budaya yang terlalu lebar akibat faktor bahasa tadi.

Dalam pertemuan di atas, Kaisar sempat menanyakan kabar Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan juga tentang Pemilu. Dubes Yusron memberitahukan Kepada Kaisar bahwa Presiden berada dalam keadaan sehat serta menyampaikan salam dari Pemerintah Indonesia.

Terkait Pemilu, Dubes Yusron menyampaikan bahwa oleh karena Presiden Yudhoyono telah menjabat sebagai Presiden sebanyak dua kali, maka sesuai Undang-Undang Dasar, di bulan Oktober nanti  Indonesia akan dipimpin oleh Presdien baru. Namun, lanjut Dubes, dia percaya bahwa Presiden yang baru akan tetap meneruskan hubungan baik Indonesia-Jepang yang telah berjalan selama ini.

“Saya percaya bahwa langkah-langkah positif yang telah ditempuh Presiden Yudhoyono dalam hubungan Indonesia-Jepang akan diikuti dan menjadi suri tauladan bagi para pemimpin Indonesia berikutnya,” ujar Dubes Yusron.

Di luar topik resmi seperti di atas, dialog Dubes Yusron dengan Kaisar  lebih banyak menyangkut kehidupan sehari-hari. Kaisar, misalnya, bertanya tentang masa-masa saat Dubes Yusron mengambil S2 dan S3 di Universitas Tsukuba, yang berjarak sekitar satu jam perjalanan darat dari Tokyo. Kaisar juga sempat bercerita tentang kunjungannya ke Indonesia pada masa Pemerintahan Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto dan juga tentang kenangan manis saat menginap di Istana Bogor dan Istana Tampak Siring di Bali.

Sementara itu, Ratu Michiko banyak bercerita tentang kebudayaan Indonesia, terutama tentang Angklung dan lagu Bengawan Solo. “Saya amat menyukai Angklung dan amat gembira ketika  di masa lalu kami mendapat satu set Angklung sebagai cinderamata dari Pemerintah Indonesia,” ujar Ratu kepada  Nyonya Dubes Yusron.

Menurut Ratu, Angklung itu masih ada di Istana Kaisar dan mereka memainkannya pada saat-saat tertentu.

Baik Ratu atau pun Kaisar sempat berbicara tentang Bunga Sakura yang sedang mekar. Pada sisi tertentu di halaman Istana,  keindahan Bunga Sakura dapat dinikmati oleh masyarakat umum, ujar Kaisar dan Ratu.