Beranda blog Halaman 39

Pengiriman Misi Ekonomi Keidanren ke Jakarta

Kunjungan kerja Presiden RI ke Jepang tanggal 22-25 Maret 2015 telah membawa berbagai hasil konkrit. Salah satu diantaranya adalah pengiriman misi ekonomi Keidanren (Federasi Bisnis Jepang) ke Jakarta yang berlangsung tanggal 8-9 April 2015.

Keidanren merupakan salah satu asosiasi bisnis paling terkemuka di Jepang yang sering kali dilibatkan Pemerintah Jepang dalam perumusan kebijakan ekonomi negara ini. Keidanren beranggotakan lebih dari 1.300 perusahaan yang semuanya adalah perusahaan multinasional dengan cakupan operasi yang bersifat global.

“KBRI Tokyo segera menindaklanjuti kunjungan kerja Presiden RI ke Jepang belum lama ini, dengan memfasilitasi pengiriman misi ekonomi Keidanren ke Jakarta,” demikan diutarakan oleh Dubes RI Tokyo Yusron Ihza Mahendra. “Bapak Presiden pada saat mengunjungi Tokyo dan Nagoya bulan Maret lalu telah melakukan serangkaian kegiatan dan pertemuan dengan dunia usaha Jepang termasuk Keidanren. Karenanya, pengiriman misi ke Indonesia ini ditujukan untuk membahas secara lebih mendalam dan terperinci berbagai bentuk kontribusi dunia usaha Jepang bagi implementasi program pembangunan prioritas Indonesia di bidang infrastruktur, maritim, tenaga listrik serta percepatan pembangunan di daerah,” Dubes Yusron menjelaskan lebih lanjut.

Misi ekonomi Keidanren dipimpin langsung oleh Ketua asosiasi tersebut, Mr. Sadayuki Sakakibara, yang juga merupakan Chairman dari Toray Industries. Misi terdiri dari 18 orang pengusaha terkemuka Jepang yang semuanya merupakan CEO / Chairman dari perusahaan-perusahaan multinasional Jepang, dengan didampingi 28 staf pendukung. Perusahaan yang berpartisipasi mencakup berbagai sektor usaha, mulai dari trading house (“sogo sosha”) hingga heavy industries, pertambangan hingga elektronik, jasa keuangan hingga produk pangan.

Keidanren-dengan-Menlu-02

Pada kesempatan kunjungan di Jakarta, para anggota misi telah melakukan kunjungan kehormatan dan dialog dengan Presiden RI Bapak Joko Widodo, Wakil Presiden RI Bapak Jusuf Kala, Menteri Perindustrian Bapak Saleh Husein, Menteri Luar Negeri Ibu Retno Marsudi, Menteri Perdagangan Bapak Rachmat Gobel, Menteri Keuangan Bapak Bambang Brodjonegoro, dan Kepala BKPM Bapak Franky Sibarani. Di samping itu, telah berlangsung pula working lunch dengan KADIN dan juga dengan Sekjen ASEAN.

Misi ekonomi Keidanren ini juga telah membawa beberapa hasil nyata. “Pada kesempatran press briefing di Jakarta, Ketua Keidanren telah mengumumkan target dan komitmen agar dunia usaha Jepang kembali menempati peringkat pertama investor asing terbesar di Indonesia, naik dari posisi saat ini di peringkat kedua,” demikian dijelaskan Dubes Yusron. “Keidanren juga menyampaikan komitmen untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi tidak saja untuk konsumen dalam negeri tetapi juga pasar ekspor, serta untuk meningkatkan kandungan lokal dalam produksi perusahaan-perusahaan Jepang di Indonesia.”

Di samping itu, Keidanren juga menyampaikan dukungannya bagi penyelenggaraan Asia Africa Business Summit oleh Indonesia di Jakarta tanggal 21-22 April 2015 melalui pengiriman delegasi tingkat tinggi pada acara tersebut.

“Salah satu yang juga kami sambut baik adalah pernyataan sikap Keidanren bahwa berbagai tantangan yang saat ini masih dihadapi dalam berinvestasi di Indonesia seperti keterbatasan kapasitas infrastruktur logistik dan tenaga listrik tidak akan disikapi sebagai masalah melainkan sebagai peluang, melalui partisipasi dunia usaha Jepang dalam penanganan masalah tersebut,” Dubes Yusron menjelaskan lebih lanjut.

Kunjungan Keidanren ke Indonesia mencerminkan semakin pentingnya posisi Indonesia bagi dunia usaha Jepang. Hal ini antara lain terlihat dari bentuk kunjungan yang eksklusif dan hanya mengunjungi Indonesia tanpa dirangkaikan dengan negara lain, berbeda dengan misi-misi ekonomi Keidanren lainnya yang lazimnya mengunjungi beberapa negara dalam satu kunjungan.

Dubes Yusron Ihza Mahendra Membuka Seminar Investasi Indonesia di Tokyo

“Visi, Misi dan Program Pembangunan Prioritas Pemerintah RI Ciptakan Berbagai Peluang Baru bagi Dunia Usaha Jepang”

Dubes Indonesia untuk Jepang, Bapak Yusron Ihza Mahendra, telah membuka seminar investasi bertajuk “Indonesia Updates: New Investment Policy and Opportunities” di Tokyo, Jepang, tanggal 31 Maret 2015.

“Visi, misi dan program prioritas Pemerintah Indonesia yang baru telah menciptakan berbagai peluang investasi yang baru pula bagi dunia usaha Jepang,” demikian diutarakan Dubes Yusron pada kesempatan pembukaan seminar. Sebagai contoh, program prioritas di bidang pembangunan infrastruktur, maritim, dan tenaga listrik tentunya membuka peluang kerjasama dan investasi di bidang-bidang tersebut. “Di samping itu, selaras dengan upaya mempercepat laju pembangunan di daerah, khususnya di luar Jawa, Pemerintah juga telah meluncurkan program bagi penciptaan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di seluruh wilayah Indonesia, yang tentunya akan mempermudah penanaman modal Jepang di wilayah-wilayah tersebut”, demikian dijelaskan Dubes Yusron.

Seminar menghadirkan beberapa pembicara terkemuka dari Indonesia, yaitu Deputi Kepala BKPM bidang Layanan Investasi Ibu Lestari Indah, Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian Bapak Imam Haryono, dan Wakil Direktur  LPPOM MUI Bapak Sumunar Jati.

Deputi Kepala BKPM telah memaparkan kebijakan investasi terkini Indonesia, khususnya berbagai langkah yang diambil guna meningkatkan pelayanan kepada calon investor. “BKPM telah meluncurkan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) untuk memudahkan proses penanaman modal bagi investor baru, dan juga menawarkan sejumlah insentif bagi investor yang memenuhi kriteria yang ada” demikian dijelaskan Ibu Lestari Indah.

Sementara itu, Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian telah memaparkan upaya Pemerintah Indonesia menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru di seluruh wilayah Indonesia. “Tidak kurang dari 14 Kawasan Ekonomi Khusus akan dibentuk, utamanya di luar Jawa, guna mengoptimalkan potensi ekonomi yang ada di wilayah-wilayah tersebut,” demikian dijelaskan Bapak Imam Haryono. “Tentunya masing-masing Kawasan Ekonomi Khusus akan didukung dengan pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur dan sejumlah insentif bagi investor”.

Mencermati semakin tingginya minat dunia usaha Jepang atas produk halal, seminar juga menghadirkan Bapak Sumunar Jati, Wakil Direktur LPPOM MUI, yang memberikan pemaparan khusus mengenai industri halal sebagai sektor investasi baru yang potensial. “Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia dapat menjadi basis yang potensial bagi industri halal baik untuk konsumsi domestik maupun pasar ekspor,” demikian diutarakan Bapak Sumunar Jati. Pada kesempatan ini, beliau telah memaparkan berbagai sektor industri halal seperti makanan dan minuman, kosmetika, obat-obatan, produk rumah tangga, pariwisata, dsb, serta prosedur dan tatacara memperoleh sertifikasi halal.

Dari pihak Jepang, seminar menghadirkan Wakil Direktur Urusan Indonesia JICA (Japan International Cooperation Agency) Bapak Jun Saotome, dan General Manager Bank SMBC Bapak Hiro Hyakutome, selaku pembicara. JICA memaparkan mengenai kemajuan berbagai program kerjasama Indonesia – Jepang di bidang pembangunan infrastruktur, sementara SMBC telah memaparkan mengenai kerjasama investasi yang dilakukannya bersama Bank BTPN yang telah memungkinkan penyediaan layanan finansial kelas dunia bagi investor Jepang di seluruh wilayah Indonesia.

Penyelenggaran seminar ini mendapatkan sambutan yang hangat dari dunia usaha Jepang. Dari target peserta 200 orang, seminar berhasil menarik partisipasi sekitar 400 peserta. Hal ini tentunya mencerminkan tingginya minat dunia usaha Jepang untuk terus memperkuat kerjasama ekonomi dengan Indonesia. Seminar investasi ini diselengarakan KBRI Tokyo bekerjasama dengan ASEAN – Japan Center dan BKPM RI.

Jepang Taruh Minat Besar Terhadap Angklung

Dalam beberapa tahun terakhir, angklung mendapat perhatian besar dari masyarakat Jepang. Minat dan perhatian besar ini kembali terlihat saat acara NHK Cultural Coverage yang digelar di Wisma Duta KBRI Tokyo hari ini, Kamis (26/2-2015). Acara yang diselenggarakan atas kerjasama KBRI Tokyo dengan lembaga penyiaran berpengaruh di Jepang ini bukan hanya bersifat menghibur dan promosi budaya Indonesia, melainkan juga memberi harapan besar lainnya.

Salah satu hadirin dari kalangan Jepang yang ikut dalam acara tapi minta agar identitasnya tidak dipublikasikan menyebutkan bahwa angklung diduga memiliki daya tersendiri yang mungkin amat berguna untuk diterapkan bagi terapi kesehatan. Terutama sekali, untuk terapi kalangan usia lanjut. Kalangan yang berasal dari tenaga medis tadi menyebutkan bahwa pihaknya berniat melakukan penelitian terhadap masalah ini. Terutama, dalam kaitan mempertajam ingatan dan pencegahan pikun.

Berkomentar terhadap hal  di atas,  Dewi L. Ihza Mahendra (istri Dubes RI untuk Jepang) menyebutkan amat gembira jika suatu hari angklung menjadi BGM (background music) di berbagai rumah sakit di Jepang.  Sekarang ini saja pun saya gembira karena kursus angklung yang di Wisma Duta KBRI Tokyo dibanjiri peminat baru yang terus meningkat. Demikian menurut Dewi, seperti dirilis KBRI Tokyo.

Selain menyuguhkan seni musik dan tarian, pagelaran budaya di atas juga menggelar bazar busana batik. Kuliner Indonesia yang ikut disuguhkan sebagai menu santap siang, juga disambut para peserta yang mayoritas dari kalangan Jepang dengan antusias. Minggu sebelumnya, saat Wismaduta menggelar Fashion Show  Kebaya, masyarakat Jepang pun juga berbondong-bondong  hadir sehingga panita harus menolak sebagian mereka karena terbatasnya tempat.

Menyinggung promosi budaya dan kerjasama dengan Lembaga Penyiaran NHK (TV, Radio dan publikasi cetak), Dubes Yusron Ihza Mahendra menyatakan dirinya akan terus meningkatkan kerjasama yang telah berlanjut.

“Kerjasama seperti ini memang terus kami bina. Tadi pagi pun, dalam Program Tokyo Eye, KBRI Tokyo tampil selama sekitar 20 menit dalam tayangan TV NHK yang disiarkan ke 180 negara di dunia,” ujar Dubes.

Japan Food Expo 2015 – Makanan Olahan Indonesia Berpeluang di Pasar Jepang

Produk makanan olahan Indonesia berpeluang besar untuk mendapat tempat di pasar Jepang.  Ini bukan  hanya dikarenakan faktor daya beli masyarakat yang tinggi, melainkan perpaduan antara kebiasaan masyarakat Jepang untuk mencoba sesuatu yang baru dan cita rasa makanan Indonesia yang memang cenderung cocok di lidah Jepang menjadi dua faktor  yang penting dalam membuka peluang tersebut.

Hal di atas disampaikan Dubes RI untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra, di sela-sela acara Japan Food Expo 2015 yang dibuka di Makuhari Messe, Perfektur Chiba, Jepang hari ini, Selasa (3/3-2015).

Hadirnya sekitar duapuluhan stand Indonesia dalam Food Expo yang telah digelar untuk ke-40 kalinya dan kali ini diiukti oleh 2700 exhibitor dari 83 negara, menurut Yusron, merupakan hal yang menggembirakan. Kita merupakan salah satu negara besar, minimal di Asia. Karena itu kita harus selalu hadir dalam acara-acara besar seperti ini, tambahnya.

Tahun lalu saya juga di tempat ini untuk acara serupa dan sekarang ini saya kembali di tempat ini beserta para peserta Indonesia. Ini berarti kita melakukan promosi secara rutin dan kontinyu, ujar Dubes yang dulu pernah menetap selama 13 tahun di Jepang dan cukup mengerti hal-ikhwal Jepang ini.

Menurut Yusron, ada beberapa kunci untuk dapat lebih masuk ke pasar Jepang. Diantaranya, adalah standarisasi produk, kontinyuitas suplai, link dan promosi. Thailand yang sejak beberapa dekade terakhir mendapat dukungan penuh pemerintahnya, termasuk promosi kuliner Thailand di luar negeri, ujar Yusron, telah menikmati hasil jerih payah mereka. Karena itu Indonesia tentu tidak boleh lengah jika memang serius untuk ikut sebagai pemain.

Menyinggung produk-produk Indonesia di pasar Jepang, termasuk produk makanan kesehatan Indonesia (di Jepang disebut sebagai “kenkou shokuhing”) yang dipamerkan, Yusron mengungkap fenomena menarik tentang kesehatan dan juga makanan-makanan sehat di Jepang. Di Jepang, kata Yusron, ada ungkapan bahwa “demi sehat, mati pun bukan masalah”. Nah, melihat kegandrungan seperti ini, kita tentu harus manfaatkan peluang-peluang seperti ini, tambah dia.

Dari data tentang kesanggupan memenuhi kebutuhan pangan, saat ini kemampuan Jepang hanyalah sekitar 60% saja. Ini berarti bahwa 40% kebutuhan pangan Jepang adalah produk impor. Tema politik ketahanan pangan Jepang selama beberapa dekade terakhir ini, menurut Yusron, adalah diversifikasi ketergantungan sumber pasokan pangan dari luar negeri.

Ini tentu merupakan isyarat penting tentang peluang yang terbuka lebar bagi pasar produk makanan Indonesia di Jepang.​

Dubes Yusron Paparkan Lima Alasan Jepang Harus Berinvestasi di Indonesia

Partisipasi Dubes Yusron Ihza Mahendra pada Aichi Nagoya Forum for International Network and Exchange (Nagoya, 23 Februari 2015).

Dubes RI untuk Jepang Yusron Ihza Mahendra telah menjadi salah satu pembicara utama pada pertemuan Aichi-Nagoya Forum for International Network and Exchange (ANNIE). Forum tersebut diselenggarakan Pemerintah Prefektur Aichi bekerjasama dengan KADIN Nagoya dan Federasi Bisnis Chubu di Nagoya, tanggal 23 Februari 2015, dan bertujuan memajukan kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan antara negara-negara ASEAN dengan sektor swasta Jepang  yang berbasis di wilayah Chubu Jepang. Di samping dihadiri Dubes Yusron, forum ini juga dihadiri pembicara dari negara-negara ASEAN lainnya.

Wilayah Chubu merupakan salah satu pusat perekonomian dan industri Jepang yang mencakup 9 Prefektur yaitu Aichi, Fukui, Gifu, Ishikawa, Nagano, Niigata, Shizuoka, Toyama dan Yamanashi. Kekuatan ekonomi Chubu sangat substansial sehingga apabila diibaratkan sebagai negara, Chubu akan termasuk sebagai salah satu 20 ekonomi terbesar di dunia dengan GDP regional yang lebih besar dari GDP beberapa negara G-20 seperti Argentina dan Afrika Selatan. Pusat urat nadi perekonomian Chubu adalah di kota Nagoya yang juga merupakan ibukota Prefektur Aichi. Saat ini tercatat lebih dari 750 perusahaan Jepang yang berbasis di Chubu telah menanamkan modal di negara-negara ASEAN.

Dubes Yusron telah menghadiri 3 sesi dari Forum ANNIE, yaitu memberikan paparan pada sesi pertama, mengikuti diskusi panel pada sesi kedua, dan menjadi tamu kehormatan pada networking reception sebagai sesi terakhir.

Pada sesi pertama, Dubes Yusron telah mendorong dunia usaha Chubu untuk terus meningkatkan hubungan perdagangan dan investasi dengan Indonesia, dengan menyampaikan 5 alasan mengapa Jepang perlu meningkatkan kerjasamanya dengan Indonesia.

“Alasan pertama adalah karena Indonesia merupakan satu diantara sedikit negara di Asia Pasifik yang mampu memadukan pertumbuhan ekonomi dengan stabilitas dan demokrasi, di mana ketiganya ini – pertumbuhan, stabilitas dan demokrasi – merupakan prasyarat bagi bisnis yang berkesinambungan,” demikian ditandaskan Dubes Yusron. Karenanya, “semua pihak yang ingin mencapai kesinambungan usaha harus masuk ke Indonesia,” Dubes Yusron menegaskan.

Alasan kedua adalah mengingat jumlah kelas menengah Indonesia yang terus berkembang pesat. “Menurut penelitian Boston Consulting Group, jumlah kelas menengah Indonesia akan terus tumbuh dari 90 juta jiwa saat ini menjadi 141 juta jiwa pada tahun 2020”, demikian dijelaskan Dubes Yusron. “Penelitian yang sama juga menyebutkan bahwa pertumbuhan tersebut terjadi merata di seluruh wilayah Indonesia, tidak terpusat di wilayah tertentu saja.”. Dunia usaha Jepang perlu memanfaatkan keunggulan demografis ini, mengingat tidak banyak negara lain di dunia yang dapat menawarkan keunggulan serupa.

Faktor berikutnysa adalah karena Indonesia, dengan posisinya yang strategis, kekayaan alam yang melimpah dan jumlah penduduk yang besar, dapat memainkan peran ganda sebagai basis produksi bagi konsumsi domestik maupun pasar ekspor. “70 persen dari investor Jepang di Indonesia menggunakan Indonesia tidak hanya sebagai basis konsumsi dalam negeri melainkan juga mengekspor produk yang dihasilkan,” demikian dijelaskan Dubes Yusron. Hal ini merupakan contoh success story yang perlu diikuti perusahaan-perusahaan Jepang lainnya.

Alasan keempat adalah karena Indonesia telah menjadikan pembangunan infrastruktur dan energi sebagai prioritas pembangunan ke depan. “Indonesia tidak menutup mata dan menyadari terdapat tantangan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan energi,” demikian ditandaskan Dubes Yusron. Dengan kata lain, Indonesia tidak mengabaikan masukan investor dan karenanya telah menjadikan pembangunan infrastruktur dan energi sebagai program prioritas. “Penghapusan subsidi BBM merupakan contoh nyata yang telah memungkinkan tidak kurang dari 120 trilyun rupiah setiap tahunnya untuk dialokasikan sebagai dana tambahan bagi pembangunan infrastruktur”, Dubes Yusron menjelaskan.

Terakhir, namun tidak kalah penting, karena bangsa Indonesia memiliki pandangan yang sangat ramah terhadap Jepang. “Berdasarkan survey BBC, 82% responden Indonesia memiliki pandangan positif atas Jepang. Ini merupakan angka tertinggi dari seluruh Negara yang disurvey”. Karenanya, dengan masuk ke Indonesia, dunia usaha Jepang akan beroperasi di negara yang ramah terhadap operasi perusahaan Jepang dan memandang Jepang sebagai sahabat.

Pada sesi diskusi panel yang dimoderatori Wakil Direktur Eksekutif JETRO (Japan External Trade Organization), Mr. Daisuke Hiratsuka, Dubes Yusron dengan menggunakan Bahasa Jepang yang fasih telah menjelaskan mengenai 4 hal yang diharapkan Indonesia dari Jepang bagi penguatan kerjasama mendatang. “Yang pertama, Jepang harus terus menjadi mitra pembangunan yang dapat diandalkan. Kedua, Indonesia ingin meningkatkan kerjasama di sektor maritim, selaras dengan karakter kedua negara sebagai negara kepulauan. Ketiga, Jepang perlu memberi kontribusi pada pembangunan infrastruktur dan energy listrik di Indonesia. Dan keempat, Indonesia mendorong agar investasi Jepang di Indonesia adalah investasi yang ‘berkualitas’, yaitu yang menghasilkan produk berorientasi ekspor dan meningkatkan kapasitas industry Indonesia”, demikian dipaparkan Dubes Yusron.

Selaras dengan apa yang telah disampaikan Dubes Yusron, negara-negara ASEAN lainnya juga menyoroti kapasitas infrastruktur dan energy di masing-masing negara sebagai tantangan terbesar dalam mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi. 

Pada kesempatan networking reception yang merupakan sesi terakhir, Dubes Yusron juga telah didaulat untuk memberikan sambutan mewakili seluruh negara ASEAN yang hadir.

Forum ANNIE dihadiri lebih dari 200 peserta dari berbagai perusahaan yang berbasis di wilayah Chubu. Termasuk di antara para peserta adalah Gubenur Prefektur Aichi, Mr. Hideaki Ohmura, Ketua KADIN Nagoya, Mr. Tokuichi Okaya, dan Ketua Federasi Bisnis Chubu, Mr. Toshio Mita.  Kawasan Chubu merupakan salah satu basis industri terpenting di Jepang dengan kekuatan di sektor otomotif, besi baja, permesinan, dan heavy industries. Kawasan ini memiliki jumlah total penduduk 21 juta jiwa dengan total GDP regional senilai US$ 720 milyar.