Beranda blog Halaman 42

Deputi BI: Revitalisasi Sektor Riil Adalah Kunci

Deputi Bank Indonesia, Dr. Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan pembangunan Indonesia terletak pada kemampuan untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam rangka memenuhi permintaan dalam negeri. Hal ini terungkap dalam Briefing Perkembangan Ekonomi dan Kebijakan Moneter Indonesia yang diselenggarakan bersama oleh KBRI Tokyo dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Tokyo tanggal 22 Januari 2014. Selain dihadiri oleh staf KBRI Tokyo dan perwakilan BUMN di Tokyo, seminar ini turut pula dihadiri oleh sejumlah mahasiswa Indonesia di wilayah Tokyo dan sekitarnya.

Dalam kata sambutannya, KUAI KBRI Tokyo menyampaikan bahwa Indonesia dan Jepang merupakan mitra ekonomi strategis yang saling membutuhkan satu sama lain. Indonesia membutuhkan investasi Jepang sedangkan Jepang membutuhkan Indonesia sebagai pasar produk Jepang. Sebagai catatan, Jepang saat ini merupakan investor terbesar ke Indonesia dengan nilai investasi sebesar US$ 4,71 miliar pada tahun 2013 lalu. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kembali hubungan ekonomi kedua negara KBRI Tokyo telah menyusun langkah kerja guna meningkatkan kerjasama di bidang perdagangan, investasi dan pariwisata.

Dalam pemaparannya, Dr. Perry Warjiyo menyampaikan bahwa Indonesia setelah global financial crisis tahun 2009 lalu terbuai dengan aliran dana yang digelontorkan oleh sejumlah negara maju, terutama Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, dalam rangka upaya penyelamatan ekonomi. Setelah Amerika Serikat menghentikan kebijakan quantitative easing (tapering-off) era easy money pun berakhir. Selain itu, Indonesia yang selama ini mengandalkan ekspor produk komoditas mentah tanpa adanya nilai tambah turut merasakan dampak dari end of commodity supercycle yang ditandai oleh penurunan harga komoditas.

Hal-hal tersebut menyebabkan pelambatan pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara berkembang termasuk Indonesia. Selain itu, Indonesia ternyata juga terlambat untuk melakukan revitalisasi sektor riil. Sektor produksi Indonesia tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga mengakibatkan peningkatan nilai impor. Hal tersebut mengakibatkan defisit pada neraca perdagangan dan akhirnya memberikan tekanan kepada Neraca Pembayaran Indonesia tahun 2013

Jika siklus ini tetap berlanjut, ekonomi Indonesia dikhawatirkan akan memasuki tahap overheating dan akan mengganggu pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia bersama dengan Bank Indonesia sepakat untuk sedikit memperlambat tingkat pertumbuhan dalam negeri guna menekan tingkat impor serta memberikan waktu bagi peningkatan kapasitas produksi dalam negeri. Selain itu, jika industri nasional tidak dapat memenuhi tingkat permintaan dalam negeri secara terus-menerus maka Indonesia terancam terperangkap dalam middle-income trap.

Sebagai bentuk langkah antisipasi, Bank Indonesia telah mengeluarkan sejumlah langkah kebijakan seperti menaikkan BI Rate menjadi 7,5%, memperkuat operasi moneter, melakukan stabilisasi nilai rupiah, memperkuat kebijakan makroprudensial, memperkuat koordinasi dengan Pemerintah, dan memperkuat kerjasama antar bank sentral. Langkah-langkah tersebut diambil guna menjaga kepercayaan para investor asing guna menanamkan modalnya di Indonesia. Indonesia sangat membutuhkan aliran modal dari luar negeri guna revitalisasi sektor riil melalui investasi di berbagai sektor produksi.

Disinilah peran Perwakilan Indonesia di luar negeri menjadi sangat signifikan. KBRI Tokyo sebagai salah satu Perwakilan RI diharapkan dapat menarik arus modal asing ke Indonesia bagi peningkatan sektor-sektor produksi di tanah air. Investasi asing tersebut diharapkan dapat berdampak revitalisasi sektor riil dalam bentuk pembukaan lapangan pekerjaan baru, transfer teknologi, peningkatan nilai tambah hasil produksi dan pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi di tanah air.

Oleh karena itu, revitalisasi sektor riil merupakan kunci utama bagi upaya pencapaian tujuan dan cita-cita nasional. Revitalisasi sektor riil diharapkan dapat meningkatkan hasil produksi dan memberikan nilai tambah bagi barang produksi Indonesia sehingga Indonesia dapat tidak saja memenuhi permintaan dalam negeri namun juga memenuhi permintaan dari negara lain dalam bentuk peningkatan ekspor produk asal Indonesia.

Seusai briefing, sejumlah peserta berkesempatan untuk mengajukan beberapa pertanyaan dalam sesi diskusi. Dalam sesi tersebut terdapat beberapa isu yang mengemuka antara lain peran BI dalam mendukung revitalisasi sektor riil, upaya peningkatan investasi Jepang ke Indonesia, dan isu subsidi BBM (KBRITokyo/Pen)